Utopia
Oleh : Arrianadev
Kita
bertemu di bawah rintik hujan. Kau ingat? Aku berlari menuju halte terdekat
untuk berteduh dari derasnya hujan saat itu. Anehnya, kau pun tiba di waktu
yang sama dengan ku. Tanpa sengaja kita bertatapan dan aku tahu tidak lama karena
aku langsung menundukkan kepala ku. Tapi aku tahu, mulai dari sanalah di mulai
suatu babak dalam kehidupan kita yang bernama cinta.
Aku
tidak percaya kebetulan, aku percaya segala sesuatu terjadi karena perbuatan
yang sudah lebih dahulu dilakukan. Sesuatu yang kita pilih, akan membawa kita
ke pilihan kita yang selanjutnya. Tapi entah kenapa teori itu terbantahkan oleh
keadaan yang terjadi sekarang. Entah bagaimana kau mengenal teman temanku,
entah bagaimana kita bisa masuk di kelas yang sama, entah bagaimana dimulainya
percakapan percakapan kita... Aku merasa tidak memilih, tetapi kenapa pilihan
pilihan ini muncul dihadapanku? Tidak ada yang tahu, tak akan ada yang pernah
tahu.
Kemudian,
kita memulai kontak yang lebih sering dan komunikasi yang lebih sering. Ingat
saat kita mulai pergi bersama bersama kelompok besar kita, entah kenapa kita
menemukan cara bermain berdua. Kita bebas. Bermain dalam busa busa sabun yang
beterbangan, di sebuah taman dengan air mancur terindah yang pernah kusaksikan.
Lalu, kita tergelak dengan begitu mudahnya, seperti sahabat yang mengenal sejak
lama, tapi kita bukan sahabat. Hubungan kita lebih rumit daripada itu…
Sore
itu di tempat yang sama, sudah dalam kelompok masing masing. Angin menerpa wajah
kita berdua, merusak rambutmu, apalagi rambutku. Herannya kita tersenyum
bersama, lalu tergelak, membuat semua mengikuti kita. Tidak ada yang menyesal
hari itu. Kita hanya bersama dalam waktu singkat yang kebetulan dapat kita
gunakan berdua. Kita hanya bermain dengan busa terbang. Terus berlari, mengejar
sesuatu, entah apa itu.
Teman
teman mulai menyadari apa yang terjadi pada kita. Mulai melihat keakraban kita
dan entah kenapa tanda persetujuan melekat di semua mata mereka, mata yang
selalu berbinar menatap kita. Aku menyukai tatapan mereka. Aku merasa beruntung
punya teman teman seperti itu dan kau tahu? Aku benar benar merasa diperhatikan
saat itu. Aku merasa tidak sia sia lagi ada di dunia ini. Aku senang dan aku
bahagia, sesederhana itu…
Hari itu, di tengah keriuhan, di tengah
tatapan banyak orang yang mencuri pandang. Kau berkata bahwa kau ingin bersama
ku sampai seterusnya. Dan entah mengapa aku tidak bisa menolak. Tidak ada alasan
apapun untuk menolak mu saat itu.
Namun,
selanjutnya, tidak ada lagi kebahagiaan itu,
Aku dekat dengan banyak orang,
begitu pula kau. Tidak ada rasa kepercayaan sama sekali di antara kita untuk
menjaga hubungan ini. Hanya ada tangis dan kemarahan di dalam hubungan kita
selanjutnya, hanya ada tuntutan dan permintaan, tidak ada lagi yang disebut
ketulusan.
Tidak ada lagi kita yang bebas
bermain busa, berlari dengan menggenggam satu tujuan yang sama, sangat terlihat
ego ku dan ego mu dan perbedaan kita berdua. Bukan aku tidak mencoba
memperbaiki ini, aku mencoba dan terus mencoba. Aku berusaha membuat hubungan
ini lurus, menumbuhkan kepercayaan lagi di antara kita. Aku tahu kau juga
berusaha, mungkin lebih keras daripada aku.
Tidak, tidak, salah,
kau bergantung kepadaku, membuatku menyelesaikan semua ini sendirian. Membuatku
menangis, membuat impianku hancur berantakan… Sungguh, sesal tak berujung yang
kurasa saat ini.
Sekarang
pikiranku kembali ke masa silam, bagaimana jika aku tidak bertemu dengan mu di
hari rintik hujan itu, bagaimana jika aku bisa mengontrol peranku dengan
sempurna, sehingga tidak jatuh cinta kepada mu. Semua ini salahku dan sekarang...
aku berusaha untuk memperbaikinya. Menyusun keping – keping kehidupanku lagi,
tanpa ada kamu di dalamnya.