Teknik Tulang Ikan dan Teknik Survey Partisipatif
Oleh : Hillariana Ikhlash Devani
I34120102
Pada praktikum
kali ini, kelas kami membahas tentang teknik tulang ikan dan teknik survey.
Sebelum membahas tentang kedua teknik tersebut. Kita harus mengetahui bahwa
teknik – teknik partisipatoris sangatlah banyak dan beberapa teknik tersebut
dapat digabungkan. Dua diantara yang bidsa digabungkan adalah teknik tulang
ikan dan teknik survey. Teknik tulang ikan adalah sebuah teknik yang
menggambarkan sebab akibat. Teknik ini dimulai dengan cara menggambarkan tulang
ikan terlebih dahulu. Kepala dari tulang ikan diasumsikan sebagai tujuan yang
hendak dicapai oleh masyarakat. Tulang menggambarkan sub masalah, duri digambarkan
sebagai masalah – masalah yang real, sedangkan bagian ekor dianalogikan sebagai
akar masalah. Pada praktikum
akar permasalahan digali lagi oleh fasilitator. Namun ada cara lain yang lebih
praktis yaitu menggali dari pohon –pohon masalah.Sedangkan teknik survey adalah
sebuah teknik yang unik. Karena kita berusaha mengkualitatifkan survey yang
biasanya berupa kuantitatif. Ciri yang paling menonjol adalah dalam teknik
survey adalah pertanyaan
– pertanyaan yang ada dibuat dibuat
bersama dengan masyarakat. Bahkan pilihan – pilihan jawaban yang ada dibuat
juga bersama masyarakat.
Refleksi
adalah inti teknik PRA. Maka sebelum melanjutkan menulis harus kita pahami bahwa
refleksi yang diharapkan tidak hanya refleksi bersama melainkan refleksi
individudual pada setiap peserta sehingga masing – masing individu harus
menulis refleksi. Teknik yang telah dilakukan dikelas kemarin seperti telah
disebutkan diatas adalah Teknik tulang ikan dan teknik survey partisipatif. Teknik tulang ikan
merupakan pada intinya hampir mirip dengan pohon masalah. Hanya saja pada
bagian kepala (Kepala pohon / kepala ikan), jika pohon masalah dituliskan
solusi / dampak, maka di tulang ikan di tuliskan tujuan. Maka dari itu
praktikum teknik tulang ikan diawali dengan
penentuan tujuan yang dicapai. Pada kelas kami, tujuan yang hendak dicapai
disepakati yaitu peningkatan akademik
bagi mahasiswa SKPM. Untuk mencapai akademik yang baik bagi mahasiswa ada
beberapa hal / isu yang harus dituliskan terlebih dahulu. Pada praktikum kali
ini, isu –isu yang dibahas antar lain, kesejahteraan mahasiswa, fasilitas, SDM,
aadministrasi, dan alat belajar. Ada beberapa masalah yang dikemukakan, misal
pada kesejahteraan mahasiwa ada masalah pada beasiswa yang sebenarnya bisa
menunjang akademik, tetapi ada masalah karena beberap tahun terakhir ini
beasiswa di IPB mengalami penurunan. Setelah semua sub bab isu diidentifikasi
masalahnya maka hal yang selanjutnya harus dilakukan adalah menyusun rencana
tindak lanjut. Contoh RTL pada praktikum kemarin adalah beasiswa yang
diharapkan bisa terus up to date
sehingga bisa memperlancar akademik mahasiswa SKPM. Hal – hal yang belum saya pahami dari teknik ini
adalah pada bagian penyusunan RTL, apakah RTL itu bisa disusun dari sub bab
masalah saja atau harus meninjau pada duri – duri masalah. Memang pada
praktikum kemarin, RTL disusun dari setiap duri – duri masalah. Hanya saja
masih belum jelas bagi saya apakah boleh disusun per bab masalah agar lebih
praktis. Selain itu, teknik tulang ikan ini, pada bagian durinya saya masih
kurang jelas apakah yang dituliskan hanya masalah saja ataukah boleh potensi.
Karena bagaimana kita ingin menyusun RTL apabila kita tidak mengetahui potensi?
Terlepas dari hal tersebut, melalui teknik tulang ikan, saya memahami analisis
lebih mudah daripada pohon masalah, karena akar masalah hanya satu, tidak
seperti pohon masalah yang memiliki banyak akar sehingga terkesan tidak fokus.
Teknik
yang kedua adalah teknik survey partisipatif. Seperti telah disebutkan diatas
teknik ini amatlah unik, karena dapat mengkuantitatifkan yang kualitatif. Kelebihan dari teknik survey ini
data yang dihasilkan bersifat kuantitatif sehingga mempermudah untuk membaca
hasil dari data dibandingkan dengan data deskriptif. Langkah pertama pada teknik survey adalah
mengidentifikasi isu, karena
dari tulang ikan isu yang digelontorkan
adalah isu akademik maka
isu
tersebut kembali diangkat. Setelah itu fasilitator bersama masyarakat
menentukan tujuan pertanyaan dan kuesioner. Kuesioner ditentukan bersama dengan
masyarakat maksudnya adalah agar jawaban – jawaban di pertanyaan itu ada di
masyarakat. Selanjutnya kami menentukan sampling frame, sampling frame dilakukan melalui daftar hadir. Setelah
mahasiswa terpilih, maka mahasiswa tersebut berpasangan dengan teman yang lain
untuk dibacakan / membacakan soal – soal kuesioner (jadi tidak mengisi
sendiri). Hal ini cukup menarik bagi saya, karena saya pikir mahasiswa akan
mengisi sendiri – sendiri. Dari kegiatan itu saya memaknai bahwa dalam
mengajukan pertanyaan survey kita tidak boleh hanya langsung memberikan
kuesioner begitu saja dan mengambilnya kemudian tapi kita harus berperan
sebagai enumerator yang baik yang menanyakan kepada masyarakat dan langsung
mengambil feedbacknya pula saat itu, terlebih lagi belum tentu masyarakat
semuanya paham dengan pertanyaan sehingga harus ada bagian bagian yang
dijelaskan. Hal yang belum jelas bagi saya adalah apakah enumerator boleh
datang dari kalangan fasilitator juga atau harus dari masyarakat? Jika diambil
dari praktikum kemarin memang harus langsung dari masyarakat tapi mungkin
menurut saya fasilitator dapat membantu terutama apabila tidak semua masyarakat
dapat membaca keusioner. Langkah berikutnya untuk teknik ini adalah pengolahan
data, pengolahan data dilakukan dengan SPSS. Tetapi karena waktu tidak cukup,
maka langkah terakhir yaitu analisis data tidak bisa dilakukan di kelas. Hal
yang dapat saya lakukan setelah mempelajari teknik ini adalah mendapatkan
pelajaran penting bagaimana menyusun kuesioner yang baik dan benar bersama
masyarakat. Selain itu sedikit cara mengolah data untuk bekal analisis data
skripsi di semester berikutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar