Selasa, 24 Maret 2015

Cerita Mini : Utopia



Utopia
Oleh : Arrianadev

Kita bertemu di bawah rintik hujan. Kau ingat? Aku berlari menuju halte terdekat untuk berteduh dari derasnya hujan saat itu. Anehnya, kau pun tiba di waktu yang sama dengan ku. Tanpa sengaja kita bertatapan dan aku tahu tidak lama karena aku langsung menundukkan kepala ku. Tapi aku tahu, mulai dari sanalah di mulai suatu babak dalam kehidupan kita yang bernama cinta.
Aku tidak percaya kebetulan, aku percaya segala sesuatu terjadi karena perbuatan yang sudah lebih dahulu dilakukan. Sesuatu yang kita pilih, akan membawa kita ke pilihan kita yang selanjutnya. Tapi entah kenapa teori itu terbantahkan oleh keadaan yang terjadi sekarang. Entah bagaimana kau mengenal teman temanku, entah bagaimana kita bisa masuk di kelas yang sama, entah bagaimana dimulainya percakapan percakapan kita... Aku merasa tidak memilih, tetapi kenapa pilihan pilihan ini muncul dihadapanku? Tidak ada yang tahu, tak akan ada yang pernah tahu.
Kemudian, kita memulai kontak yang lebih sering dan komunikasi yang lebih sering. Ingat saat kita mulai pergi bersama bersama kelompok besar kita, entah kenapa kita menemukan cara bermain berdua. Kita bebas. Bermain dalam busa busa sabun yang beterbangan, di sebuah taman dengan air mancur terindah yang pernah kusaksikan. Lalu, kita tergelak dengan begitu mudahnya, seperti sahabat yang mengenal sejak lama, tapi kita bukan sahabat. Hubungan kita lebih rumit daripada itu…
Sore itu di tempat yang sama, sudah dalam kelompok masing masing. Angin menerpa wajah kita berdua, merusak rambutmu, apalagi rambutku. Herannya kita tersenyum bersama, lalu tergelak, membuat semua mengikuti kita. Tidak ada yang menyesal hari itu. Kita hanya bersama dalam waktu singkat yang kebetulan dapat kita gunakan berdua. Kita hanya bermain dengan busa terbang. Terus berlari, mengejar sesuatu, entah apa itu.
Teman teman mulai menyadari apa yang terjadi pada kita. Mulai melihat keakraban kita dan entah kenapa tanda persetujuan melekat di semua mata mereka, mata yang selalu berbinar menatap kita. Aku menyukai tatapan mereka. Aku merasa beruntung punya teman teman seperti itu dan kau tahu? Aku benar benar merasa diperhatikan saat itu. Aku merasa tidak sia sia lagi ada di dunia ini. Aku senang dan aku bahagia, sesederhana itu…
 Hari itu, di tengah keriuhan, di tengah tatapan banyak orang yang mencuri pandang. Kau berkata bahwa kau ingin bersama ku sampai seterusnya. Dan entah mengapa aku tidak bisa menolak. Tidak ada alasan apapun untuk menolak mu saat itu.
Namun, selanjutnya, tidak ada lagi kebahagiaan itu,
            Aku dekat dengan banyak orang, begitu pula kau. Tidak ada rasa kepercayaan sama sekali di antara kita untuk menjaga hubungan ini. Hanya ada tangis dan kemarahan di dalam hubungan kita selanjutnya, hanya ada tuntutan dan permintaan, tidak ada lagi yang disebut ketulusan.
            Tidak ada lagi kita yang bebas bermain busa, berlari dengan menggenggam satu tujuan yang sama, sangat terlihat ego ku dan ego mu dan perbedaan kita berdua. Bukan aku tidak mencoba memperbaiki ini, aku mencoba dan terus mencoba. Aku berusaha membuat hubungan ini lurus, menumbuhkan kepercayaan lagi di antara kita. Aku tahu kau juga berusaha, mungkin lebih keras daripada aku.
Tidak, tidak, salah, kau bergantung kepadaku, membuatku menyelesaikan semua ini sendirian. Membuatku menangis, membuat impianku hancur berantakan… Sungguh, sesal tak berujung yang kurasa saat ini.
Sekarang pikiranku kembali ke masa silam, bagaimana jika aku tidak bertemu dengan mu di hari rintik hujan itu, bagaimana jika aku bisa mengontrol peranku dengan sempurna, sehingga tidak jatuh cinta kepada mu. Semua ini salahku dan sekarang... aku berusaha untuk memperbaikinya. Menyusun keping – keping kehidupanku lagi, tanpa ada kamu di dalamnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar