Pohon masalah adalah
sebuah teknik partisipatoris yang dapat digunakan untuk menentukan akar
masalah, dari suatu masalah, serta akibat yang ditimbulkan dari masalah
tersebut. Teknik ini merupakan bagian dari perencanaan suatu program. Dengan
menggunakan teknik ini, masalah – masalah yang sebelumnya telah terkumpul dalam
teknik – teknik lain dapat dicarikan akar masalahnya sehingga mempermudah
pembuatan RTL (Rencana tindak lanjut). Sedangkan, matriks ranking adalah sebuah
teknik partisipatoris yang mengurutkan sedemikian rupa masalah dan potensi yang
dimiliki masyarakat kedalam sebuah bagan ranking. Pemberian nilai didasarkan
pada persepsi masyarakat terhadap masalah atau potensi tersebut. Nilai yang
digunakan biasanya berada pada ragam 1 – 10 dengan angka 10 adalah yang paling
besar.Penggunaan 10 tingkat digunakan agar potensi dan masalah lebih
bervariasi.
Pada praktikum kali ini
teknik pohon masalah dan teknik matriks ranking, diduetkan. Penggunaan pohon
masalah dan matriks ranking lebih tepat digunakan untuk masyarakat yang
fungsional. Mengapa seperti itu? Karena, masyarakat fungsional sesuai dengan
teori tindakan dari Weber akan lebih rasional. Masyarakat akan menentukan sebab
dan akibat dari suatu permasalahan dan akan menentukan cara yang paling mudah untuk
mencapai sebuah tujuan yang sama daripada cara yang sulit. Maka, dengan
mengetahui ranking dari setiap masalah dan potensi masyarakat dapat menentukan
permasalahan dengan potensi seperti apa yang akan diselesaikan terlebih dahulu.
Apakah masyarakat akan mengerjakan yang susah atau memilih yang mudah?
Pertanyaan yang kemudian timbul adalah apakah fasilitator akan membebaskan
masyarakat untuk memilih? Karena, sebagaimana kita ketahui setiap program akan
membutuhkan dana dan waktu yang mungkin tidak sesuai bagi program yang dipilih
masyarakat.
Untuk menjawab
pertanyaan tersebut terlebih dahulu kita membahas langkah – langkah dalam
praktikum. Langkah pertama untuk menggunakan teknik pohon masalah adalah
menyiapkan partisipan yang telah mengikuti pertemuan pada teknik – teknik
sebelumnya. Setelah partisipan terkumpul maka fasilitator dari daftar
permasalahan dan potensi pada pertemuan sebelumnya akan menanyakan kesahihan
masalah dan potensi. Pada saat ini masyarakat berpeluang untuk menambahkan
kembali potensi dan masalah. Setelah itu, maka fasilitator akan membimbing
masyarakat untuk meletakkan potensi dan masalah di pohon masalah. RTL tidak
disusun bersamaan saat teknik pohon masalah. Akan tetapi, menurut saya, RTL
dapat disusun langsung, melalui akar masalah.Misalnya saja, ada masalah tentang
nilai minor AGH yang kecil hal ini disebabkan oleh akar masalah standar nilai
yang tinggi dengan mengetahui akarnya kita dapat menyusun RTL (1) Apakah perlu
penurunan standar nilai atau (2) Apakah cukup hanya belajar kelompok saja?.
Penyusunan RTL melalui akar masalah tentunya harus tetap memperhatikan potensi
yang ada.
Teknik berikutnya
adalah teknik matriks ranking. Matriks ranking pada praktikum hari ini
menggunakan permasalahan dan potensi yang sudah dirumuskan dalam pohon
masalah.Setelah potensi dan masalah terhubung sedemikian rupa. Maka, kami
membuat matriks,yang di dalamnya mencakup nilai potensi dan nilai masalah serta
nilai potensi dikurangi masalah, kita dapat merumuskan RTL. Caranya adalah
dengan melihat nilai pengurangan nilai potensi dan nilai masalah.Jika nilai
yang dihasilkan positif, maka masyarakat dapat mengatasi permasalahan yang ada.
Jika nilai yang dihasilkan negative maka masyarakat tidak dapat mengatasi
permasalahan yang ada. Bantuan dari pihak luar dibutuhkan untuk hasil nilai
yang negative. Kembali kepada permasalahan yang telah ditanyakan di depan, saya
menilai bahwa penggunaan potensi dari dalam dapat digunakan untuk mengatasi
masalah sehingga masyarakat tidak sepenuhnya harus bergantung kepada bantuan
dana dan waktu dari pihak luar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar