Sabtu, 21 Februari 2015

MODEL KOMUNIKASI MASSA UNTUK PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA

Memasuki era reformasi, pembangunan yang cenderung top down semakin tidak popular. Saat ini, pembangunan alternative semakin banyak dipelajari, dikarenakan pembangunan alternative diyakini dapat membawa keadilan dan kesetaraan bagi semua pihak. Salah satu bentuk pembangunan alternative adalah pemberdayaan. Pemberdayaan sendiri berarti memberikan sumberdaya, kesempatan, pengetahuan dan keterampilan (distribution of resources) kepada warga untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam menentukan masa depannya sendiri dan berpartisipasi dalam dan memenuhi kehidupan komunitasnya (Jim Ife, 1995). Peningkatan kemampuan dan partisipasi masyarakat desa tidak bisa menggunakan cara ‘instan’. Apalagi masyarakat desa cenderungan  memiliki perasaan “minder” terhadap orang dari luar desa yang dianggap lebih berpendidikan daripada dirinya.
Komunikasi adalah sebuah instrument yang dapat digunakan untuk membuat masyarakat desa merubah pemikiran tersebut. Komunikasi yang digunakan untuk menyalurkan program – program pemberdayaan kepada masyarakat desa dapat dirancang sebelumnya dalam model – model komunikasi. Model secara sederhana diartikan sebagai gambaran yang didesain untuk mempresentasikan realita ( De Vito, 1996). Pemilihan model komunikasi yang tepat dalam pemberdayaan masyarakat desa akan menunjang keberhasilan program – program pembangunan tersebut. Sebelum memilih, tentunya perlu diketahui karakteristik masyarakat desa yang akan dituju. Pada tulisan ini dikondisikan bahwa masyarakat desa sudah mengalami perubahan sosial religious dan perkembangan era informasi dan teknologi. Maka dari 4 model komunikasi Rogers dan Shoemaker ( 1971), penerapan model komunikasi satu tahap (one step flow model) adalah yang paling efektif.
Model satu tahap ini memiliki karakteristik bahwa saluran komunikasi media masaa mengomunikasikan pesan – pesan secara langsung kepada khalayak, tanpa harus melalui pemuka pendapat (Rogers and Shoemakaer, 1971). Hal ini menandakan bahwa ada keterdedahan khalayak. Keterdedahan ini adalah salah satu hal yang merupakan awal dari pemberdayaan masyarakat. Dengan model satu tahap, masyarakat desa butuh ‘tahu’ dengan segala hal yang akan dilakukannya. Masyarakat desa juga bisa menolak jika program pembangunan yang diperkenalkan tidak sesuai dengan persepsinya. Tentunya model komunikasi satu tahap hanya digunakan pada tahap awal yaitu perkenalan dengan program. Selanjutnya, dapat dilakukan dengan multi stage dengan menggunakan komunikasi interpersonal agar masyarakat lebih memahami dengan apa yang sudah ia pilih. Hasil akhirnya, masyarakat diharapkan bisa mandiri tidak tergantung pada fasilitator apalagi pemerintah. 

Catatan Tambahan :

Pada praktikum komunikasi massa setelah didiskusikan, model pemberdayaan yang cocok untuk masyarakat desa adalah model satu tahap. Hal ini dikarenakan masyarakat di pedesaan masih dianggap terisolasi sehingga hanya orang - orang tertentu saja yang bisa mendapatkan informasi. Selanjutnya, penerapan model yang paling diharapkan bisa dilakukan adalah model jarum suntik, karena hasilnya menimbulkan efek yang kuat bagi masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar