Memasuki
era reformasi, pembangunan yang cenderung top
down semakin tidak popular. Saat ini, pembangunan alternative semakin
banyak dipelajari, dikarenakan pembangunan alternative diyakini dapat membawa
keadilan dan kesetaraan bagi semua pihak. Salah satu bentuk pembangunan
alternative adalah pemberdayaan. Pemberdayaan sendiri berarti memberikan
sumberdaya, kesempatan, pengetahuan dan keterampilan (distribution of
resources) kepada warga untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam menentukan
masa depannya sendiri dan berpartisipasi dalam dan memenuhi kehidupan
komunitasnya (Jim Ife, 1995). Peningkatan kemampuan dan partisipasi masyarakat
desa tidak bisa menggunakan cara ‘instan’. Apalagi masyarakat desa cenderungan memiliki perasaan “minder” terhadap orang
dari luar desa yang dianggap lebih berpendidikan daripada dirinya.
Komunikasi
adalah sebuah instrument yang dapat digunakan untuk membuat masyarakat desa
merubah pemikiran tersebut. Komunikasi yang digunakan untuk menyalurkan program
– program pemberdayaan kepada masyarakat desa dapat dirancang sebelumnya dalam
model – model komunikasi. Model secara sederhana diartikan sebagai gambaran
yang didesain untuk mempresentasikan realita ( De Vito, 1996). Pemilihan model
komunikasi yang tepat dalam pemberdayaan masyarakat desa akan menunjang
keberhasilan program – program pembangunan tersebut. Sebelum memilih, tentunya
perlu diketahui karakteristik masyarakat desa yang akan dituju. Pada tulisan
ini dikondisikan bahwa masyarakat desa sudah mengalami perubahan sosial
religious dan perkembangan era informasi dan teknologi. Maka dari 4 model
komunikasi Rogers dan Shoemaker ( 1971), penerapan model komunikasi satu tahap
(one step flow model) adalah yang
paling efektif.
Model
satu tahap ini memiliki karakteristik bahwa saluran komunikasi media masaa
mengomunikasikan pesan – pesan secara langsung kepada khalayak, tanpa harus
melalui pemuka pendapat (Rogers and Shoemakaer, 1971). Hal ini menandakan bahwa
ada keterdedahan khalayak. Keterdedahan ini adalah salah satu hal yang
merupakan awal dari pemberdayaan masyarakat. Dengan model satu tahap,
masyarakat desa butuh ‘tahu’ dengan segala hal yang akan dilakukannya.
Masyarakat desa juga bisa menolak jika program pembangunan yang diperkenalkan
tidak sesuai dengan persepsinya. Tentunya model komunikasi satu tahap hanya
digunakan pada tahap awal yaitu perkenalan dengan program. Selanjutnya, dapat
dilakukan dengan multi stage dengan
menggunakan komunikasi interpersonal agar masyarakat lebih memahami dengan apa
yang sudah ia pilih. Hasil akhirnya, masyarakat diharapkan bisa mandiri tidak
tergantung pada fasilitator apalagi pemerintah.
Catatan Tambahan :
Pada praktikum komunikasi massa setelah didiskusikan, model pemberdayaan yang cocok untuk masyarakat desa adalah model satu tahap. Hal ini dikarenakan masyarakat di pedesaan masih dianggap terisolasi sehingga hanya orang - orang tertentu saja yang bisa mendapatkan informasi. Selanjutnya, penerapan model yang paling diharapkan bisa dilakukan adalah model jarum suntik, karena hasilnya menimbulkan efek yang kuat bagi masyarakat.
Catatan Tambahan :
Pada praktikum komunikasi massa setelah didiskusikan, model pemberdayaan yang cocok untuk masyarakat desa adalah model satu tahap. Hal ini dikarenakan masyarakat di pedesaan masih dianggap terisolasi sehingga hanya orang - orang tertentu saja yang bisa mendapatkan informasi. Selanjutnya, penerapan model yang paling diharapkan bisa dilakukan adalah model jarum suntik, karena hasilnya menimbulkan efek yang kuat bagi masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar