Apa ada yang namanya teman selamanya? Apa bisa temen kerja kelompok jadi temen selamanya? Enjoy it!
Friends
Forever
Oleh
: Arriana Dev
Wajah itu menyentuh meja kayu yang dingin,
tergeletak tak mau bangkit. Seraut wajah pasrah itu pun menarik perhatian teman
– teman di sekitarnya.
“Lis lo kenapa?” Tanya Gerry,
“Gapapa,”Jawab sang punya wajah, datar,
“Gara – gara percobaan membelah kodok tadi ya Lis?
Emang susah banget kok!”Tika menjatuhkan badannya di kursi di depan Alis, Alis,
dengan mata coklatnya yang teduh, mulai bergerak.
“Tik aku mau jadi dokter… tapi belah kodok aja
ketakutan begitu,” Ucap Alis
Tika dan Gerry memandang Alis prihatin. Namun
perhatian mereka segera teralih kepada manusia yang baru datang dari ruang
guru, Dion. Tampang Dion seratus persen lebih parah daripada Alis, sebagai
ketua kelompok mereka sekaligus ketua kelas memang berat harus berhadapan
dengan guru galak seperti Bu Eka.
“Temen – temen, kata Bu Eka, tugas kita adalah buku
kerja halaman 28 – 43,” Mimik - mimik wajah di kelas itu menunjukkan ekspresi
yang tidak senang, “Dan kabar terburuknya adalah… Tugas itu, harus selesai dalam
tempo 3 hari,”
“Arrrkkkh,”Geraman tidak puas terdengar dari seluruh
sudut kelas. Dion melihat tampang teman sekelompoknya, Gerry, Tika, dan
kemudian Alis, dipandangi nya mata cokelat yang teduh itu, sembari menyunggingkan
senyum yang amat lemah.
---
“Hufh, tugas kan gak cuma biologi
doang,”Ucap Gerry, dirinya tergeletak diantara teman – temannya yang sibuk
membaca buku – buku referensi biologi di perpustakaan.
“Ger, kalau lo kerjanya cuma
mengeluh dan ngomel kayak gitu, bisa bisa lo ditinggal loh disini, karena kita
masih ada janji untuk ngerjain tugas lain,”Ucap Tika ganas
“Enam halaman lagi,”Alis meregangkan
tubuhnya, “Semangat dong!” Alis mengepalkan kedua tangannya sembari mengarahkan
kepada kedua temannya.
“Lo semangat banget sih Lis?”Tanya Dion
“Yah… gue pengen cepet selesai aja sih, biar
tenang,” Alis menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Sebenernya
Lis apa sih yang buat lo suka ngerjain ini cepet cepet?” Tanya Dion. Alis
memandang Dion lalu tersenyum, di dalam hatinya kata – kata yang lebih panjang
terucap.
Terbebas dari perasaan
khawatir, terbebas dari perasaan belum ngerjain tugas
Dion yang seakan bisa membaca hati
Alis ikut – ikutan tersenyum. Jadilah mereka senyum senyuman.
“Woi! Masih ada gue sama Tika kali
disini!” Seru Gerry sambil melempar buku ke arah Dion
“Sakit kali Gerr!” Dion membalas
Gerry, Tika dan Alis hanya bisa tertawa.
---
“Kumpulkan buku kerja! Jadikan satu
dengan kelompoknya! Kelompok yang tidak lengkap, tidak akan mendapatkan nilai!”
Seru Bu Eka di depan kelas.
Wajah Dion menegang, begitu pula
Tika dan Gerry, saat istirahat tadi Alis mengatakan buku kerjanya hilang dan
hal itu lah yang membuat mereka pucat.
“Lis beneran gak ada? “ Tanya Tika
cemas. Alis menggelengkan kepalanya lemah. “Cindy, kamu gak lihat bukunya
Alis?”
“Enggak.” Cindy menjawab acuh.
“Cin, kamu beneran gak lihat? Aku
yakin bukunya ada di atas meja waktu aku pergi sama Tika tadi ke kantin…”Ucap
Alis, wajahnya memerah menahan tangis.
“Alis, kamu gak bisa nuduh aku gitu
dong,” mata Cindy tajam menusuk, Alis jadi tidak enak hati. Cindy memang teman
sebangkunya, tapi mereka tidak pernah dekat. Terutama ketika Alis tahu Cindy
juga menyimpan perasaan untuk Dion. Dan percakapan itu berakhir ketika Bu Eka
sudah berdiri di samping Alis dengan pandangan yang tajam. Bu Eka tahu apa yang
sudah terjadi.
---
Nilai nol tercatat sebagai nilai untuk kelompok 5,
kelompok Alis. Alis sangat sedih dan bener- bener ngerasa bahwa ini semua
salahnya. Setelah itu, hampir dua minggu, Alis tidak masuk karena sakit panas
dan ketika ia masuk semuanya agak berbeda…
Tika menjadi akrab dengan Cindy, Gerry sedikit segan
berbicara dengannya dan Dion tidak pernah menatapnya lagi.
Alis benar benar merasa sedih dan entah mengapa
semuanya tidak terasa nyata. Kesukaan Alis bermain harmonika menghiburnya
sedikit bahkan kini ia agaknya lebih mementingkan pendidikan seninya daripada
pendidikan eksatanya. Alis mengambil ekstrakurikuler paduan suara dan merasa
tenang ketika alunan lagu dimulai seakan semua bebannya terangkat.
---
Akan tetapi, pada suatu hari Alis akhirnya
mengetahui apa penyebab teman – temannya bersikap tidak ramah padanya.
“Lis, ikut aku ke ruang BP, sekarang!”Ajak Tika,
Alis menurut. Begitu ia sampai disana ternyata sudah ada Gerry, Dion dan Cindy!
Cindy benar benar dalam keadaan kacau, matanya
merah, rambutnya berantakan dan dia menangis sesenggukan. Astaga… kenapa Cindy?
Alis berpikir dalam hati.
“Alis, Cindy tadi udah bilang semuanya ke Ibu,”Ucap
Bu Euis, guru BP mereka.
“Bilang apa Bu?” Tanya Alis,
“Kalau dia yang sembunyikan buku kerja biologi
kamu,” Lanjut Bu Euis, mata Alis melebar, terkejut.
“Dan gak cuma itu Lis, dia juga yang pernah masukkin
kodok ke laci kamu, dia juga yang pernah ngotorin buku notes kesayangan
kamu,”Ucap Tika. Alis mengingat ingat peristiwa yang dia alami selama semester
ini.
“Kenapa?”Tanya Alis masih tidak percaya
“Karena gue benci sama lo Lis! Lo udah ngerebut Dion
dari gue! Lo juga yang udah ngerebut titel juara kelas dari gue! Dan lo semua,
gue yakin lo semua bakal nyesel memperlakukan gue kayak gini!”Seru Cindy,
sembari memandang Tika, Gerry, dan Dion.
“Cindy! Duduk!”Seru Bu Euis murka, “Kamu gak boleh
gitu Cindy! Alis itu temen kamu!”
“Enggak Bu… Alis itu bukan teman saya…” Ucap Cindy
dingin “ Bu, hari ini juga, saya mengundurkan diri dari sekolah ini! Saya akan
pindah sekolah!”
“Cindy!”Seru Bu Euis. Alis, Dion, Gerry, dan Tika
menatap Cindy tidak percaya “Semua bisa dirubah Nak,”sambung Bu Euis lembut,
“Enggak Bu, saya gak mau berubah, saya akan tetap
benci dia!”Seru Cindy sembari menunjuk Alis, “Saya permisi Bu,”Cindy bangkit
dari tempat duduknya, menyenggol bahu Alis kencang, beruntung Dion sempat
menangkap Alis sebelum terjatuh .
---
“Lis, ini harus diapain?!”Tika terlihat panik
menghadapi barang – barang di depannya. Alis memasang tampang datarnya.
“Tik, coba ambil mortar dan alu, Ger, hati ayam,
Dion, Hydrogen Peroksidanya ya,”
“Daging ini harus kita apakan?” Tanya Tika
“Kita harus cek kadar nya dan bandingkan dengan sel
tumbuhan yang sebelumnya udah dicoba oleh Bu Eka, biar aku yang numbuk, Gerry,
ambil pinset, dan rak tabung reaksi,” Setelah mereka berkumpul Alis kembali
menjelaskan “Kita harus meneteskan
larutan hydrogen peroksidanya dengan tepat di tabung reaksi dan melihat reaksi
yang terjadi, yang lain, catat!”
Mereka menunggu dengan seksama sembari mencatat
banyaknya gelembung yang keluar dari tabung itu, ternyata lebih banyak daripada
hasil pada daun. Percobaan itu tidak susah dan mereka berhasil tapi itu tidak
seberapa dibanding rasa gembira karena Alis sudah hadir disana, dalam kelompok
itu. Tak terasa mata Tika basah.
“Aliss,” Tika memeluk Alis, “Alis makasih ya, kita
beneran kangen sama kamu, Cindy jahat banget sama kamu selama ini, kita bener
bener harus jauhin kamu supaya dia ngaku Alis... Maafin kita Alis!”
Alis balas memeluk Tika hangat, lalu
tersenyum kepada Gerry yang disambut cengiran Gerry dan Dion. Dion… Dion
memandang lembut kepada Alis, berusaha meminta maaf, dan mata teduh Alis
mengatakan bahwa ia sudah memaafkan Dion, bahkan sebelum Dion meminta.
The
END - @Arrianadev -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar