Kamis, 19 Februari 2015

Another Short Story : Friends Forever

Apa ada yang namanya teman selamanya? Apa bisa temen kerja kelompok jadi temen selamanya? Enjoy it!





Friends Forever
Oleh : Arriana Dev

Wajah itu menyentuh meja kayu yang dingin, tergeletak tak mau bangkit. Seraut wajah pasrah itu pun menarik perhatian teman – teman di sekitarnya.
“Lis lo kenapa?” Tanya Gerry,
“Gapapa,”Jawab sang punya wajah, datar,
“Gara – gara percobaan membelah kodok tadi ya Lis? Emang susah banget kok!”Tika menjatuhkan badannya di kursi di depan Alis, Alis, dengan mata coklatnya yang teduh, mulai bergerak.
“Tik aku mau jadi dokter… tapi belah kodok aja ketakutan begitu,” Ucap Alis
Tika dan Gerry memandang Alis prihatin. Namun perhatian mereka segera teralih kepada manusia yang baru datang dari ruang guru, Dion. Tampang Dion seratus persen lebih parah daripada Alis, sebagai ketua kelompok mereka sekaligus ketua kelas memang berat harus berhadapan dengan guru galak seperti Bu Eka.
“Temen – temen, kata Bu Eka, tugas kita adalah buku kerja halaman 28 – 43,” Mimik - mimik wajah di kelas itu menunjukkan ekspresi yang tidak senang, “Dan kabar terburuknya adalah… Tugas itu, harus selesai dalam tempo 3 hari,” 
“Arrrkkkh,”Geraman tidak puas terdengar dari seluruh sudut kelas. Dion melihat tampang teman sekelompoknya, Gerry, Tika, dan kemudian Alis, dipandangi nya mata cokelat yang teduh itu, sembari menyunggingkan senyum yang amat lemah.
---
            “Hufh, tugas kan gak cuma biologi doang,”Ucap Gerry, dirinya tergeletak diantara teman – temannya yang sibuk membaca buku – buku referensi biologi di perpustakaan.
            “Ger, kalau lo kerjanya cuma mengeluh dan ngomel kayak gitu, bisa bisa lo ditinggal loh disini, karena kita masih ada janji untuk ngerjain tugas lain,”Ucap Tika ganas
            “Enam halaman lagi,”Alis meregangkan tubuhnya, “Semangat dong!” Alis mengepalkan kedua tangannya sembari mengarahkan kepada kedua temannya.
            “Lo semangat banget sih Lis?”Tanya Dion
“Yah… gue pengen cepet selesai aja sih, biar tenang,” Alis menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
 “Sebenernya Lis apa sih yang buat lo suka ngerjain ini cepet cepet?” Tanya Dion. Alis memandang Dion lalu tersenyum, di dalam hatinya kata – kata yang lebih panjang terucap.
Terbebas dari perasaan khawatir, terbebas dari perasaan belum ngerjain tugas
            Dion yang seakan bisa membaca hati Alis ikut – ikutan tersenyum. Jadilah mereka senyum senyuman.
            “Woi! Masih ada gue sama Tika kali disini!” Seru Gerry sambil melempar buku ke arah Dion
            “Sakit kali Gerr!” Dion membalas Gerry, Tika dan Alis hanya bisa tertawa.
---
            “Kumpulkan buku kerja! Jadikan satu dengan kelompoknya! Kelompok yang tidak lengkap, tidak akan mendapatkan nilai!” Seru Bu Eka di depan kelas.
            Wajah Dion menegang, begitu pula Tika dan Gerry, saat istirahat tadi Alis mengatakan buku kerjanya hilang dan hal itu lah yang membuat mereka pucat.
            “Lis beneran gak ada? “ Tanya Tika cemas. Alis menggelengkan kepalanya lemah. “Cindy, kamu gak lihat bukunya Alis?”
            “Enggak.” Cindy menjawab acuh.
            “Cin, kamu beneran gak lihat? Aku yakin bukunya ada di atas meja waktu aku pergi sama Tika tadi ke kantin…”Ucap Alis, wajahnya memerah menahan tangis.
            “Alis, kamu gak bisa nuduh aku gitu dong,” mata Cindy tajam menusuk, Alis jadi tidak enak hati. Cindy memang teman sebangkunya, tapi mereka tidak pernah dekat. Terutama ketika Alis tahu Cindy juga menyimpan perasaan untuk Dion. Dan percakapan itu berakhir ketika Bu Eka sudah berdiri di samping Alis dengan pandangan yang tajam. Bu Eka tahu apa yang sudah terjadi.
---
Nilai nol tercatat sebagai nilai untuk kelompok 5, kelompok Alis. Alis sangat sedih dan bener- bener ngerasa bahwa ini semua salahnya. Setelah itu, hampir dua minggu, Alis tidak masuk karena sakit panas dan ketika ia masuk semuanya agak berbeda…
Tika menjadi akrab dengan Cindy, Gerry sedikit segan berbicara dengannya dan Dion tidak pernah menatapnya lagi.
Alis benar benar merasa sedih dan entah mengapa semuanya tidak terasa nyata. Kesukaan Alis bermain harmonika menghiburnya sedikit bahkan kini ia agaknya lebih mementingkan pendidikan seninya daripada pendidikan eksatanya. Alis mengambil ekstrakurikuler paduan suara dan merasa tenang ketika alunan lagu dimulai seakan semua bebannya terangkat.
---
Akan tetapi, pada suatu hari Alis akhirnya mengetahui apa penyebab teman – temannya bersikap tidak ramah padanya.
“Lis, ikut aku ke ruang BP, sekarang!”Ajak Tika, Alis menurut. Begitu ia sampai disana ternyata sudah ada Gerry, Dion dan Cindy!
Cindy benar benar dalam keadaan kacau, matanya merah, rambutnya berantakan dan dia menangis sesenggukan. Astaga… kenapa Cindy? Alis berpikir dalam hati.
“Alis, Cindy tadi udah bilang semuanya ke Ibu,”Ucap Bu Euis, guru BP mereka.
“Bilang apa Bu?” Tanya Alis,
“Kalau dia yang sembunyikan buku kerja biologi kamu,” Lanjut Bu Euis, mata Alis melebar, terkejut.
“Dan gak cuma itu Lis, dia juga yang pernah masukkin kodok ke laci kamu, dia juga yang pernah ngotorin buku notes kesayangan kamu,”Ucap Tika. Alis mengingat ingat peristiwa yang dia alami selama semester ini.
“Kenapa?”Tanya Alis masih tidak percaya
“Karena gue benci sama lo Lis! Lo udah ngerebut Dion dari gue! Lo juga yang udah ngerebut titel juara kelas dari gue! Dan lo semua, gue yakin lo semua bakal nyesel memperlakukan gue kayak gini!”Seru Cindy, sembari memandang Tika, Gerry, dan Dion.
“Cindy! Duduk!”Seru Bu Euis murka, “Kamu gak boleh gitu Cindy! Alis itu temen kamu!”
“Enggak Bu… Alis itu bukan teman saya…” Ucap Cindy dingin “ Bu, hari ini juga, saya mengundurkan diri dari sekolah ini! Saya akan pindah sekolah!”
“Cindy!”Seru Bu Euis. Alis, Dion, Gerry, dan Tika menatap Cindy tidak percaya “Semua bisa dirubah Nak,”sambung Bu Euis lembut,
“Enggak Bu, saya gak mau berubah, saya akan tetap benci dia!”Seru Cindy sembari menunjuk Alis, “Saya permisi Bu,”Cindy bangkit dari tempat duduknya, menyenggol bahu Alis kencang, beruntung Dion sempat menangkap Alis sebelum terjatuh .
---
“Lis, ini harus diapain?!”Tika terlihat panik menghadapi barang – barang di depannya. Alis memasang tampang datarnya.
“Tik, coba ambil mortar dan alu, Ger, hati ayam, Dion, Hydrogen Peroksidanya ya,” 
“Daging ini harus kita apakan?” Tanya Tika
“Kita harus cek kadar nya dan bandingkan dengan sel tumbuhan yang sebelumnya udah dicoba oleh Bu Eka, biar aku yang numbuk, Gerry, ambil pinset, dan rak tabung reaksi,” Setelah mereka berkumpul Alis kembali menjelaskan  “Kita harus meneteskan larutan hydrogen peroksidanya dengan tepat di tabung reaksi dan melihat reaksi yang terjadi, yang lain, catat!”
Mereka menunggu dengan seksama sembari mencatat banyaknya gelembung yang keluar dari tabung itu, ternyata lebih banyak daripada hasil pada daun. Percobaan itu tidak susah dan mereka berhasil tapi itu tidak seberapa dibanding rasa gembira karena Alis sudah hadir disana, dalam kelompok itu. Tak terasa mata Tika basah.
“Aliss,” Tika memeluk Alis, “Alis makasih ya, kita beneran kangen sama kamu, Cindy jahat banget sama kamu selama ini, kita bener bener harus jauhin kamu supaya dia ngaku Alis... Maafin kita Alis!”
            Alis balas memeluk Tika hangat, lalu tersenyum kepada Gerry yang disambut cengiran Gerry dan Dion. Dion… Dion memandang lembut kepada Alis, berusaha meminta maaf, dan mata teduh Alis mengatakan bahwa ia sudah memaafkan Dion, bahkan sebelum Dion meminta.

The END - @Arrianadev -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar