Pengembangan Masyarakat Berbasis Ekosistem
Hillariana[1]
Pendahuluan
Pengembangan masyarakat
berbasis ekosistem didasari dengan perspektif yang berbeda dari topik pengembangan
masyarakat sebelumnya. Pada topik –
topik sebelumnya, kita memandang pengembangan masyarakat setara dengan
pendekatan sistem sosial yang ada pada masyarakat. Sedangkan, pada topik kali
ini akan lebih condong melihat ekosistem yang dihuni oleh masyarakat. Pembahasan
lebih lanjutnya adalah bagaimana ekosistem itu dapat berhubungan dengan
lingkungan sosialnya.
Untuk memahami hal
tersebut pertama harus dipahami tentang berbedanya ekosistem di tiap komunitas
di Indonesia. Adanya perbedaan inilah yang menjadi dasar bahwa lingkungan
sosial yang terbentuk akan berhubungan dengan ekosistemnya. Dalam
pembahasannya, dijelaskan pula definisi ekosistem dari Hasim dan Remiswal.
Selain itu, haruslah dipahami benar teori teori dari Julian Steward dan Cliford
Geertz agar bisa memahami bagaimana pola adaptasi ekologi dan ekologi budaya
dalam suatu komunitas. Terakhir, adalah pembahasan tentang mengapa pengembangan
berbasis ekosistem harus dipelajari bersama. Hal ini akan membawa kita kembali
pada definisi pengembangan masyarakat dari bab awal matakuliah pengembangan
masyarakat
Pengembangan Masyarakat Berbasis Ekosistem
Ekosistem yang ada
di tiap komunitas di Indonesia berbeda beda. Secara umum, dapat diambil
sejumlah tipe umum di Indonesia. Tipe ekosistem pertama adalah tipe ekosistem
lahan gambut dan peladang berpindah. Adanya ekosistem ini membuat lingkungan
sosial masyarakatnya terpengaruh dengan melakukan mover. Jadi, jika sekolah di
Papua yang dominan ekosistemnya adalah lahan gambut dan peladang berpindah
dibuat seperti sekolah di Pulau Jawa, tentunya program itu menjadi tidak
berhasil dikarenakan tidak sesuai dengan ekosistem.
Tipe ekosistem
selanjutnya adalah tipe ekosistem pesisir, masyarakat pesisir yang pad aumumnya
berprofesi sebagai nelayan adalah masyarakat yang bisa mengerjakan segalanya
sendiri. Berbeda dengan masyarakat di tipe ekosistem padi sawah yang harus
hidup dengan bergotong royong. Ekosistem lainnya adalah ekosistem pegunungan.
Tipe ekosistem ini seharusnya tidak memperbolehkan masyarakatnya menanaman
tanaman musiman, harus keras sehingga tidak terjadi erosi dalam skala besar.
Akan tetapi,
kembali lagi, pada saat di lapangan, tidak ada pendekatan yang generik.
Semuanya akan sustain dan dinamis. Tergantung bagaimana karakteristik
masyarakatnya secara khusus. Lantas, apa sebenarnya ekosistem itu? Ekosistem atau
sistem ekologi menurut Hasim dan Remiswal (2009) adalah merupakan suatu
kehidupan yang terdiri atas suatu komunitas makhluk hidup (dari berbagai jenis)
dengan bermacam – macam benda mati yang berinteraksi membentuk suatu sistem.
Dapat dijelaskan
bahwa ekosistem adalah sistem ekologi dimana dalam sistem ekologi terdapat
perputaran energi yang saling mendukung setiap komponennya. Komponennya adalah
komunitas mahkluk hidup dan benda mati. Perputaran energi ditunjukkan dengan
adanya interaksi antara keduanya. Interaksi ini akan menjadi sebuah sinergi
apabila lingkungan dapat mendukung kehidupan masyarakat dengan menyediakan
sumber daya dan masyarakat dapat menggunakan sumberdaya ini dengan tidak
berlebihan. Adanya kesinergian ini tentunya akan membentuk sistem yang kompleks
yang akan dijalani oleh sistem sosial pada masyarakat. Sehingga kesinergian
antara alam dan manusianya akan terus terjaga.
Ekosistem, Ekologi, dan Lingkungan Hidup
Bagaimana
menjelaskan keterkaitan lingkungan sosial dengan lingkungan sekitarnya? Sudut
pandang ini terikat erat dengan pola – pola adaptasi ekologi. Terutama dengan
teori determinism dan posibilisme lingkungan yang dapat menunjukkan bagaimana
suatu masyarakat terpengaruh dengan lingkungannya.
Pembahasan lain
untuk memahaminya adalah menggunakan 10 asas untuk memahami dinamika ekosistem.
Asas terpenting adalah pengetahuan akan kestabilan ekosistem. Karena semakin
stabil ekosistem maka makin mantap keanekaragaman suatu komunitas sehingga
makin jelas keterkaitan lingkungan sosial dengan lingkungan ekologinya. Selain
itu, dibahas pula tentang linkage
atau keterkaitan dalam ekosistem. Keterkaitan dalam ekosistem menyebabkan
masyarakat beragam. Contohnya adalah semakin permanen tipe rumah seseorang di
daerah perkotaan maka semakin bagus tetapi jika melihat kea rah masyarakat
pesisir makan semakin bagus kapal motornya maka semakin bagus tingkat hidupnya.
Lalu, pada
kenyataannya, keterkaitan dalam ekosistem bukanlah faktor tunggal. Ada faktor
lain seperti motivasi komunitas yang dapat membuat komunitas dengan ekosistem
sama berbeda perilakunya. Namun, dapat dipahami bahwa keberbedaan ekosistem
adalah alasan yang paling cocok untuk menjelaskan keterikatan ini Karena ekosistem
adalah suatu yang khas sehingga setiap daerah berkomunitas berbeda mempunyai
cirinya masing – masing. Keberbedaan ekosistem inilah yang mempengaruhi
berbedanya perilaku masyarakat. Lebih lanjut, keterikatan antar komponen,
seperti yang dijelaskan dalam pengertian ekosistem tadi, adalah penciri khas
dari sebuah masyarakat
Prinsip Pengembangan Masyarakat Berbasis
Ekosistem
Prinsip ini
didasari oleh teori dari Cliford Geertz tentang inti kebudayaan. Dalam teori
ini diartikan ada benang merah antara
sistem sosial dan ekosistem. Sistem sosial yang dimaksud disini adalah budaya masyarakat. Ekosistem
memberikan pengaruh ekologi dan akan menciptakan inti budaya (menurut Steward,
inti budaya adalah elemen yang beradaptasi dengan lingkungan). Ingat, hanya
inti budaya bukan non inti budaya.
Pengertian ini memberi arti bahwa pengembangan masyarakat berbasis ekosistem
harus menggali dari dalam desa. Membuat komunitas tergerak untuk mencari discovery nya sendiri dalam bentuk
teknologi. Teknologi ekspolitasi SDA ini nantinya akan berdampak kepada 3 hal
dalam sistem sosial masyarakat yaitu populasi penduduk, kelembagaan ekonomi,
dan kelembagaan sosial.
Dari keterangan
diatas dapat dirumuskan 10 prinsip pengembnagan masyarakat yaitu sumberdaya
biologis harus dimanfaatkan. Dengan kata lain sebagai fasilitator kita lah yang
belajar dari masyarakat (social learning
process) dan masyarakatlah yang pintar dengan dunianya. Prinsip kedua
adalah kualitas lingkungan harus dijaga dengan menerapkan susitanable development. Ketiga, kita harus berfokus kepada
sumberdaya terbarukan. Keempat, teknologi dan manajemen yang diterapkan tidak
tumpang tindih dengan yang sudah ada dalam masyarakat. Lima, berusaha
menggunakan SDA dengan pemanfaatn ganda (misalnya : subak yang bisa digunakan
untuk pengairan padi, listrik, dan home industry). Keenam, pengembangan
masyarakat yang dilakukan harus dalam rantai alamiah, Ketujuh, penggunaan
material pembangunan tidak menganggu dinamika ekosistem. Kedelapan limbah harus
diatasi dengan melakukan AMDAL. Terakhir prinsip ke – 9 dan ke 10 yang
berkaitan erat dengan kualitas dan kuantitas yang dihasilkan drai program
pengembangan masyarakat haruslah mampu lebih tinggi dari produk sintetik dan
dapat memenuhi kebutuhan minimal masyarakat.
Mengapa pengembangan masyarakat harus
berbasis ekosistem?
“Community development is a
movement designed to promote better living for the whole community with the
active participation and on the initiative of the community”
Seperti telah dijelaskan dalam
pendahuluan, memahami pengembangan masyarakat berbasis ekosistem harus dikembalikan
lagi kepada pengertian pengembangan masyarakat. Kita sama sama harus menjadikan kata – kata partisispati
aktif sebagai highlight dalam
pengertian pengembangan masyarakat. Karena inilah kunci dari kita melaksanakan
pembangunan berbasis ekosistem.
Kembali kepada pengertian komunitas secara sosiologi. Secara sosiologi, ciri – ciri komunitas yaitu sebuah grup
atau kelompok, yang tidak statis dengan kata lain berproses atau dinamis dan
sangat dipengaruhi lingkungannya. Untuk sistem sosialnya, sebuah komunitas
memiliki struktur dan kultur yang sangat khas, berbeda dari komunitas lainnya,
tentunya sebuah komunitas memiliki tempat tinggal yang sama (landasan
geografi). Lalu, sebuah komunitas juga memiliki gaya hidup dan cita – cita yang
sama. Juga, yang terpenting adalah memiliki perasaan yang mengikat secara
psikologis.
Dari pengertian tersebut sudah sangat jelas bahwa komunitas
tinggal dalam ekosistem. Ekosistem adalah wadah bagi komunitas untuk
beraktivitas dan tentunya partisipasi aktif dari masyarakat bisa didapat jika
program yang dicanangkan sesuai dengan ekosistem tempat tinggalnya.
2 pertanyaan kritis tentang topik praktikum
1. Dikatakan masyarakat berbeda secara khusus, tergantung
kepada ekosistemnya, Bagaimana cara kita sebagai fasilitator untuk menangkap
keberbedaan itu dengan lebih factual dan nyata?
2. Program pengembangan masyarakat tidak bisa terlepas dari
pembangunan regional dan begitu juga sebaliknya, lalu seperti diketahui prinsip
– prinsip berbasis ekosistem ini belum terlalu dipahami oleh aparat pemerintah
sehingga pembangunan regional yang ada
seringkali merusak, Bagaimana peran kita sebagai facilitator untuk menanggapi
kejadian ini?
Daftar Pustaka
Hasim, Remiswal. 2009. Community
Development Berbasis Ekosistem. Jakarta [ID] : Diadit Media. 252 hal.
[1]
Mahasiswi PS SKPM, Hillariana Ikhlash Devani / I34120102
Setelah menjalani materi kuliah ini lebih memahami lagi isu - isu dunia seperti perdagangan karbon, dsb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar