Selasa, 21 Januari 2014

Tugas Resume Pengembangan Masyarakat (Part 4)



Pengemas dalam Konteks Pembangunan Lokal dan Global

Hillariana Ikhlash Devani / I34120102

Pendahuluan
            Pengembangan masyarakat seharusnya berfokus kepada dinamika komunitas lokal (local community) dimana komunitas lokal di olah sedemikian untuk dapat bersentuhan dengan komunitas global (global community) bahkan institusi global (global instituition). Akan tetapi, tidak begitu kenyataannya, seringkali tidak ada in line antara local development dan global development. Kejadian ini seringkali terjadi pada perencana pembangunan beraras makro. Sebenarnya paradigm ini dapat bergeser, sebagai contoh adalah perencana pembangunan DKI Jakarta, sekaligus Gubernur DKI Jakarta Bapak Joko Widodo yang telah merencanakan pembuatan kebijakan jalan tol dengan menghubungkan antara local development yaitu kebutuhan masyarakat akan transportasi umum yang nyaman dan global development yaitu pembangunan jalan tol masa depan. Bapak Joko Widodo telah berusaha memadukan pembangunan lokal dan global.

Pengembangan Masyarakat dan Pembangunan Daerah
            Menurut Undang –Undang nomor 24 tahun 2006, tingkat komunitas (desa / kampung dan kabupaten (kota) adalah daerah yang mandiri. Hal ini berarti pada tingkat tersebut seharusnya peraturan bisa dibentuk sedemikian rupa sehingga pengembangan masyarakat dan pembangunan daerah bisa sejalan. Akan tetapi, ternyata pengembangan masyarakat dan pembangunan daerah tidak berhubungan.
            Dalam skema local government policies (panah satu arah, panah kebikan berjalan) dan community based development ada sebuah lembaga yang dapat menjadi penghubung (bridging) antara kabupaten dan komunitas yaitu tingkat kecamatan, tapi UU malah memojokkan kecamatan. Sehingga kita sebagai co workers harus berperan untuk bisa menciptakan keseimbangan dinamis sehingga dapat menemukan cara yang membuat local government dan local based community bersatu.

Pembangunan Daerah (Makro) dan Pemberdayaan Komunitas (Mikro)
            Perspektif pembangunan daerah dan perspektif pemberdayaan komunitas haruslah disatukan sehingga membentuk pengembangan kawasan pedesaan berbagai komunitas. Membentuk sinergitas diantara keduanya bukanlah hal yang mudah. Namun, bukan berarti tidak bisa, ada sebuah cara untuk menyatukan keduanya yaitu dengan mengembangkan masing – masing bagiannya dulu sehingga kedepannya keduanya mempunyai pandangan yang sama tentang pengembangan kawasan pedesaan.
            Pengembangan kekuatan bottom up menggunakan intuisi yaitu meningkatkan kapasitas kelembagaannya terlebih dahulu dan menguatkan akses masyarakat kepada sumberdaya. Sebagai contoh yaitu sebuah koperasi kredit yang mampu bertahan melewati krisi ekonomi 1998. Koperasi ini terus beroperasi karena metode pemberdayaan komunitasnya kuat. Koperasi ini memberdayakan masyrakat dengan sebuah pelatihan, dan tidak berhenti sampai disitu koperasi ini pula yang menciptakan peluang sehingga masyarakat pun berpartisipasi di dalamnya. Koperasi ini juga mampu menggunakan kekuatan penetrasi top down lewat bonding, bridging dan creating strategy yang mereka lakukan.
            Bonding dilakukan koperasi ini dengan cara mengeratkan hubungan komunitas, bridging dilakukan dengan ber link dengan lembaga lain dan creating strategy dilakukan dengan memberikan kredit dengan cara yang berbeda drai bank. Dengan cara ini koperasi kredit telah mampu menarik partisispasi dari masyarakat dan membuat aturan yang sesuai dengan masyarakat itu sehingga dapat dikatakan program koperasi kredit sudah mencakup komunitas hingga lokalitas. From subject to subject, sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan dan kedua pihak pun bisa bersinergi.

Prinsip CBD dan Implementasi CBD
            Pada intinya prinsip – prinsip dan implementasi community based development harus diterapkan pada kasus – kasus di dalam masyarakat. Sebagai contoh adalah kasus NTT, yang mendapat bantuan dana dari Plan international. Dimana diceritakan bahwa organisasi ini mempunyai kendala saat penyaluran bantuan kepada masyarakat kareana tuan tanah yang tidak mau bekerja sama dengan organisasi ini.
            Kendala ini haruslah diselesaikan dengan prinsip dan implementasi CBD, dimana organisasi ini harusnya melakukan bonding, bridging dan creating strategy yang baik kepada tuan tanah. Misal dengan melakukan penyuluhan kepada tuan tanah tentang pentingnya program yang dijalankan dan mengenai manfaat yang akan didapat tuan tanah jika mendukung program ini. Setelah itu barulah perusahana ini bisa mengembangkan kekuatan bottom up masyarakat melalui program yang sudah disediakan.

Pengembangan Kawasan Pedesaan Berbasis Komunitas
            Ada komponen operasional yang harus dilakukan dalam pengembangan kawasan pedesaan berbasis komunitas. Diharuskan pula dilakukan pendekatan holistik (secara menyeluruh kepad sebuah komunitas untuk mengetahui pengembangan kawasan yang terbaik yang bisa dilakukan.
            Salah satu contoh kasus yang ada adalah pengembangan blok natuna. Pengembangan kawasan Blok Natuna yang kaya akan gas ala mini sangat dibutuhkan oleh Indonesia. Akan tetapi, pengembangan kawasan ini bukanlah sesuatu yang mudah. Pengembangan kawasan Blok Natuna akan mengundang banyak semut – semut yang meras berkepentingan akan daerah itu. Masalah lain adalah diperkirakan pengembangan Blok Natunan tidak bisa memberikan intensif kepada pemerintah daerah dan pembangun. Padahal intensif ini adalah sesuatu yang wajib jika menginginkan adanya sinergisitas. Jika tidak ada, amaka hanya kemiskinan dan konflik lah yang akan tercipat.
            Cara terbaik yang diputuskan untuk membangun Blok Natuna adalah dengan memberdayakan masyarakatnya terlebih dahulu. Setelah masyarakat berdaya maka diperkirakan blok Natuna akan memberikan intensif sehingga supporting atau fasilitas dapat dibangun.
            Pengembangan kawasan juga tidak terlepas dari isu global warming yang sekarang beredar. Isu global warming ini telah menciptakan protocol Kyoto yang pada intinya adalah negara – negara penghasil carbon diharuskan untuk mengurangi produksi pabrik mereka karena carbon adalah salah satu penyebab terjadinya global warming. Akan tetapi, tidak semudah itu dikarenakan negara – negara maju yang berproduksi itu membeli bahannya dari negara – negara berkembang sehingga jika diberhentikan maka negara – negara berkembang pun akan terkena dampaknya.Setelah beberapa perundingan terciptalah suatu kebijakan baru yaitu CDM (Clean Development Mechanism) sebuah mekanisme penjualan carbon . Penjualan carbon sebagai barang tak terlihat ini dilakukan dengan cara memberikan sumbangan pembangunan kepada negara berkembang. Inilah yang mengkaitkan global warming dan pengembangan kawasan berbasis komunitas.
            Sebuah pengembangan kawasan komunitas seharusnya dilakukan oleh orang – orang yang telah menganalisis komunitas tersebut sehingga sumbangan itu menjadi bisa berarti bagi komunitas yang menerimanya. Karena jika yang melakukan adalah orang – orang yang tidak tahu maka sumbangan itu akan hanya berarti tidak apa – apa karena maslaah dalam penggunaan teknologi oleh komunitas misalnya ataua masalah teknologi yang bertentangan dengan budaya komunitas. Disinilah pengembangan masyarakat berkonteks lokal dan global harus bersinergi kembali untuk menciptakan pembangunan yang baik dan sesuai bagi komunitas.

2 Pertanyaan Kritis terhadap Topic Praktikum
1.      Bagaimana cara pemerintah mengatasi isu yang tersebar bahwa pembiayaan CSR dibebankan kepada harga produk yang semakin meningkat?

2.      Pada kasus skripsi PT Geothermal, PT ini memebrikan mandate CSR kepada yayasan lain, sehingga perusahaan sendiri sebenarnya tidak tahu dananya mengalir kemana, Mengapa kejadian ini bisa terjadi? Dimanakah posisi yayasan itu? Apakah sebagai bagian dari perusahaan, pemerintah atau masyarakat?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar