Sebagai seseorang yang tumbuh bersama drama Korea, menonton drama Korea dalam waktu senggang setidaknya adalah satu hobi yang mulai saya tekuni kembali. Alasannya sederhana, komunitas drama korea cukup besar, bisa berbincang dengan topik yang kedua belah pihak sama-sama mengerti. Ingat, menurut penelitian di Harvard, untuk membuat seseorang menjadi bahagia, dibutuhkan komunitas yang sehat. Tentu saja, selain alasan yang saya cari-cari di atas (agar dinilai betapa besar manfaat drama), ada alasan mengapa drama Korea menjadi layak untuk disaksikan, yaitu karena dramanya bagus.
Tidak bisa dipungkiri, ada banyak faktor mengapa sebuah drama Korea menjadi peraih rating tertinggi. Faktor yang sering dibahas adalah faktor chemistry antara aktor yang berperan. Masih teringat saya akan masa-masa saya amat berharap aktor akan menikah dalam real life. Namun hari ini, akan saya bahas mengenai satu faktor lain yang tidak kalah penting yaitu naskah. Entah bagaimana drama Love Next Door adalah drama yang menurut saya selain banyak faktor lainnya, memiliki naskah drama terbaik. Genre Love Next Door sendiri dikatakan pada websitenya adalah rom-com, romantic comedy. Saya menyukai berbagai genre drama, tetapi mengapa drama satu ini begitu menarik?
Drama ini dibuka dengan kepulangan seorang expat yaitu Baek Seok-ryu dari Amerika Serikat, kepulangannya begitu mendadak, membuat satu lingkungan rumahnya terkejut. Saya menulis satu lingkungan rumah, bukan hanya orang di rumahnya ya. Author-nim begitu ciamik menangkap setting lingkungan rumah Korea, atau saya rasa Asia pada umumnya. Dengan Ibu yang suka marah-marah, ayah yang rendah diri karena gagal dalam karier. Tidak hanya itu, penulis juga bisa menggambarkan persaingan ibu-ibu akan anak-anaknya dalam kadar yang wajar namun ketat. Pastilah di antara kita pernah disandingkan dengan anak tetangga? Dan semua hal ini terjadi dalam episode satu.
Sudah fantastis?
Jika belum, saya ceritakan lagi, episode satu ini juga membuat kita bertanya-tanya, ya saya yang menonton pun gemas. Baek Seok-ryu yang berusia 30 an (di episode nantinya akan direveal berusia 34 tahun) punya karir 10 tahun di perusahaan terkenal di Amerika dengan gaji luar biasa (ditunjukkan dengan dia yang pulang ke Korea naik business class) akan menikah dengan orang Korea domisili Amerika Serikat, lho kok ya tiba-tiba pulang? Mengapa dia membuang American dream's nya? Anehnya lagi dengan semua amarah dari keluarganya, lho kok Seok-ryu ini tetap menerima dengan lapang dada?
Ada satu scene yang membuat saya bergetar, Ibunya benar-benar meminta Seok-ryu pergi dari rumah, menyeret koper Seok-ryu ke ruang tamu, dan disuruh kembali ke Amerika, saya dalam hati kayak, yaudah pergi ajalah Seok-ryu, gausah ke Amerika (karena direveal ternyata Seok-ryu pernikahan nya batal dan berhenti dari pekerjaannya) pergi aja ke tempat lain yang kamu suka. Saya kan jadi ingat drama Korea yang lain yaitu Summer Strike. Dimana tokoh utamanya bertujuan mencari kedamaian dalam hidupnya. Saya pikir, tolong Seok-ryu, daripada kamu tidak dihargai, udah pergi aja deh kayak Yeo-rum, cari lingkungan baru yang mau menerima kamu.
Ternyata Seok-ryu tetap tegar.
Ya sudah, walaupun kesel saya pun lanjut ke episode selanjutnya.
Nah untungnya di episode-episode selanjutnya, mulai lah saya dikasih paham sama author-nim kalau lingkungannya Seok-ryu ga sejahat itu. Ibunya pun bertindak begitu karena ada sebab akibat. Bahkan ada seorang wartawan yang baru pindah ke lingkungan mereka, wartawan itu merasa kalau lingkungan itu pun baik untuknya. Kan saya jadi agak calm down ya kalau ada pendapat profesional kayak gitu, saya jadi merasa kisah Seok-ryu ini ga bakal jadi kisah penindasan. Alhasil, saya jadi semangat untuk nonton lagi. Nah, disini naskah bermain lagi melalui penokohan, saya yakin kalau Seok-ryu digambarkannya tipe pendiam, udah berhenti deh ga kemana-mana lagi dramanya. Udah ditindas keluarga, pendiam pula kan ya? Hebatnya author-nim menggambarkan Seok-ryu sebagai gadis yang penuh semangat, dan berani speak up, mengutip kata-kata anak tetangga, Seok-ryu akan membuat lingkungan ini menjadi ramai lagi.
Dan benar, lingkungan tempat tinggal Seok-ryu ini jadi ramai, jadi banyak kejadian yang bisa dicapture, memang sih capture nya ga dari mata Seok-ryu aja, tapi justru saya suka modelan drama begini, ga berpusat di tokoh utamanya aja. Semua tokoh digali dan dikembangkan, jadinya saya berasa nonton slice of life, relate setiap aspek. Namun jujur, saya setiap episode nungguin, jadi kenapa sih Seok-ryu ini butuh pulang? Dan ternyata, dalam setiap scenenya author-nim sudah menyebar clue. Penyebaran clue ini terjadi di sepanjang cerita. Keselnya saya, saya itu ga bisa nebak, saking slice of lifenya berasa banget ya, saya sangka oh ini Seok Ryu ga mau melakukan ini, karena begini. Padahal enggak ya.
[SPOILER AHEAD]
Dari episode awal, kecurigaan itu memang diberikan, kayak Seok-ryu ini butuh pulang ke Korea, tapi kenapa ga mau makan tteopokki pedas padahal ayahnya ini buka kedai tteopokki? Saya waktu itu cuma mikir, ya karena dia kan kepulangannya mendadak, dia ga mau ketemu ayahnya langsung. Tapi kan, kalau kangen Korea pasti makan makanan Korea dong? Hal yang kedua Seok-ryu ga mau berendam, tapi alasan dia ga mau ke pemandian air panas itu sederhana sekali, kan sekarang ada scub, scrub aja. Duh, bisa-bisanya saya luput. Kemudian, yang paling aneh adalah, di Korea ada kebudayaan minum alkohol, Seok-ryu nolak minum alkohol dengan alasan dia abis liat foto pre weddingnya, takut kalau dia dalam pengaruh alkohol dia akan chat mantan tunangannya dan minta balikan dsb.
Pas saya tahu kenapa, saya sampai ga bisa berkata- kata (iya karena nangis). Seribu jempol buat author-nim!
Tapi ingat saudara-saudara, genre drama ini rom-com ya. Awalnya, saya pun kayak sedih, terus mikir duh TVn nih, sad ending jangan-jangan. Apalagi saya udah kebawa emosional ya aka nangis berderai air mata. Ternyata, tidak pemirsa, ketika Seok-ryu sudah disodorkan dengan kenyataan hidup yang realistis (pekerjaan, cinta, kanker depresi), terimakasih author-nim tetap meneguhkan karakter Seok-ryu yang pantang menyerah dan penuh semangat. Jadinya, dengan segala permasalahan yang dia hadapi ya dia mikirin comeback. Comeback dengan cara yang susah-susah gampang lagi yaitu menemukan mimpi baru. Saya pribadi menyadari ya, tidak semua sehebat Seok-ryu, tapi ya saya juga mau lho jadi Seok-ryu.
Tentunya, sesuai dengan genre drama yaitu rom-com, banyak pihak yang akan menikmati romansa Seok-ryu dengan anak tetangga. Saya juga tidak menutup mata dan telinga, namun dibanding dengan romansa, saya saat ini menyukai drama ini karena betapa indahnya riset diterapkan dalam drama ini. Saking bagusnya riset, author-nim bisa masukkin tentang time capsule, bahas-bahas privilege, bahas pasta korea dan onggi (옹기) buat wadah tradisionalnya, perhatian terhadap kebiasaan milineal yang suka ngonten masak di yutub, tentang bagaimana sekarang ya sukanya buka kantor terus jadi CEO sendiri. Tapi masih bisa masukkin unsur spiritualitas juga, dan guyub sama tetangga.
Bagaimana ya author-nim meriset drama ini?
Bagian ini sebaiknya saya ulas di tulisan selanjutnya, karena untuk sekarang ilmu saya belum cukup. Jadi, tulisan yang ini saya tutup dulu. Sebagai penutup, saya ingin berkata dengan penuh hormat kepada author-nim.
Author-nim, Shin Ha-Eun, karya Anda memberikan sesuatu yang segar, saya menikmati bagaimana riset yang baik menjadi kunci dari sebuah naskah drama. Author nim, saya yang amatir ini berharap agar bisa menemukan kreativitas dan menelurkan karya seperti author-nim.