“Diaz,
lo kenal sama cewek yang lagi celingukan itu?” Tanya Gian, Diaz mengangkat
kepala, mengingat, oh dia yang waktu itu nemenin Arista,
“Danis?” Panggil Diaz, yang empunya
nama menoleh, “Sini, mau gabung gak?” Tanya Diaz. Gian dan Reno yang duduk
disebelah Diaz hanya bisa melongo. Pertanyaan, kok malah diajak gabung sih?
Terlihat jelas dikedua wajah teman Diaz itu. Danisa tak kalah melongo, beberapa
anak berkasak – kusuk,
Duduk…
enggak… Danisa berpikir keras, dia memang mencari tempat duduk untuk makan
siang, tapi… Enggak. Putusnya, dia
menggeleng dan mengarahkan tangannya seakan dia harus ke suatu tempat.
“Lo kenal cewek pendiem itu Yas?”Tanya
Gian setelah Danisa berlalu
“Iya dan enggak,” Jawab Diaz kalem,
Dahi Gian berkerut.
“Udahlah, daripada ngebahas begitu,
mending ngebahas kontrakan, Lo gak papa Yas, pindah tempat?” Tanya Reno
“Kenapa enggak?’Tanya Diaz, “Tapi
gue minta korting ya, kan kalian yang punya inisiatif pindah,”
“Wee, enak aja lo, yang kaya
siapa?”Tanya Gian bercanda
“Lah yang anak dekan siapa?” Tanya
Diaz balik ke Gian, Reno hanya tertawa mendengar mereka.
---
Danisa melangkah ke tempat ia
meletakkan sepedanya. Ia melepaskan kunci sepedanya. Hari itu sudah sore,
matahari sudah gak bersinar terlalu terik, jadi ia bisa menikmati perjalan
bersepedanya hari ini.
Danisa sedang mengenakan jaketnya,
ketika ia mendengar suara. Diaz…
“Naik sepeda juga toh?”
“I.. iya,”Jawab Danisa,
“Ngekos dimana? Bareng sampai depan
yok?”Tanya Diaz. Danisa tidak bisa menolak.
Dan akhirnya, sore di kota pelajar
itu terasa sangat berbeda untuk Danisa..
---
Kring
kring kring, sepedaku roda tiga, Danisa terbangun, dia mimpi, mimpi masa
kecilnya, masa kecil yang indah, tapi bukan di kota ini, bahkan bukan di Pulau
ini.
Rumahnya nun jauh disana, di sempadan sungai
Musi, tempat yang indah, dimana bintang terlihat terang, ikan – ikan berenang
gembira di sungai dan suara gemericik air yang menyerupai musik terus menemani
harinya. Maka itu, ia sedikit gugup ketika datang ke kota besar ini. Ketika
bintang tak terlihat jelas, ketika hewan tak terlihat senang dan ketika suara
air yang dirindukannya tidak pernah ia dengar lagi. Air matanya menitik, tapi
ia tidak boleh sedih, segera ia bersiap – siap untuk kuliah. Danisa sedang
turun tangga ketika ponsel ditangannya berbunyi.
Triing,
Danisa, saya udah di
depan kosanmu. Danisa tertegun dan seketika panik.
Astaga! Kemaren aku janjian ya sama Diaz?
Oke Diaz, tunggu
sebentar saya keluar
Danisa
membawa sepedanya keluar, sedikit ketar ketir, tapi kegugupannya berkurang
karena ternyata Diaz tidak sendiri, ada dua orang lagi temannya. Danisa
tersenyum.
“Who,
mau jemput koe toh?”Tanya Gian dan Reno berbarengan, logat Jawanya kental,
“Gian,”tangan
Gian terulur,
“Danis,”
Jawab Danisa,
“Reno,”
Ganti tangan Reno terulur
“Danis,”
Jawab Danisa,
“Burjo
dulu po?”Tanya Gian kepada Diaz,
“Apa
itu Burjo?”Danisa bertanya Gian, Reno, dan Diaz melongo tak percaya.
---
“Kamu
agak parah Danis, sudah hampir satu tahun kuliah di sini gak pernah ke burjo?”Tanya
Diaz sembari memesan empat bubur kacang ijo plus teh manis
Danis
memandang semua cowo yang ada di burjo itu was – was. Ya wajar dia gak tahu,
wong isinya cowo semua begini, “Diaz, kalau saya kesini sendiri gak bareng
kalian, kayaknya saya sudah habis,” Ucap Danis, sembari mengedarkan matanya ke
seluruh penjuru ruangan
Gian,
dan Reno tertawa melihat kelakuan Danisa, Diaz mengangkat bahu tak acuh, tapi
kemudian Danisa ikut tertawa, dan Diaz bersumpah dirinya menghangat melihat
tawa itu. Diaz menggelengkan kepala, ini gak benar, Arista menunggunya jauh
disana. Dia dan Danisa adalah suatu bentuk pertemanan, tegas Diaz dalam
otaknya. Tapi Diaz tidak tahu, bahwa cinta dapat menyelusup kedalam pertemanan
semudah menjentikkan tangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar