Jumat, 30 Oktober 2015

Komedi Putar #Part2

“Diaz, lo kenal sama cewek yang lagi celingukan itu?” Tanya Gian, Diaz mengangkat kepala, mengingat, oh dia yang waktu itu nemenin Arista,
            “Danis?” Panggil Diaz, yang empunya nama menoleh, “Sini, mau gabung gak?” Tanya Diaz. Gian dan Reno yang duduk disebelah Diaz hanya bisa melongo. Pertanyaan, kok malah diajak gabung sih? Terlihat jelas dikedua wajah teman Diaz itu. Danisa tak kalah melongo, beberapa anak berkasak – kusuk,
            Duduk… enggak… Danisa berpikir keras, dia memang mencari tempat duduk untuk makan siang, tapi… Enggak. Putusnya, dia menggeleng dan mengarahkan tangannya seakan dia harus ke suatu tempat.
            “Lo kenal cewek pendiem itu Yas?”Tanya Gian setelah Danisa berlalu
            “Iya dan enggak,” Jawab Diaz kalem, Dahi Gian berkerut.
            “Udahlah, daripada ngebahas begitu, mending ngebahas kontrakan, Lo gak papa Yas, pindah tempat?” Tanya Reno
            “Kenapa enggak?’Tanya Diaz, “Tapi gue minta korting ya, kan kalian yang punya inisiatif pindah,”
            “Wee, enak aja lo, yang kaya siapa?”Tanya Gian bercanda
            “Lah yang anak dekan siapa?” Tanya Diaz balik ke Gian, Reno hanya tertawa mendengar mereka.
---
            Danisa melangkah ke tempat ia meletakkan sepedanya. Ia melepaskan kunci sepedanya. Hari itu sudah sore, matahari sudah gak bersinar terlalu terik, jadi ia bisa menikmati perjalan bersepedanya hari ini.
            Danisa sedang mengenakan jaketnya, ketika ia mendengar suara. Diaz…
            “Naik sepeda juga toh?”
            “I.. iya,”Jawab Danisa,
            “Ngekos dimana? Bareng sampai depan yok?”Tanya Diaz. Danisa tidak bisa menolak.
            Dan akhirnya, sore di kota pelajar itu terasa sangat berbeda untuk Danisa..
---
            Kring kring kring, sepedaku roda tiga, Danisa terbangun, dia mimpi, mimpi masa kecilnya, masa kecil yang indah, tapi bukan di kota ini, bahkan bukan di Pulau ini.
 Rumahnya nun jauh disana, di sempadan sungai Musi, tempat yang indah, dimana bintang terlihat terang, ikan – ikan berenang gembira di sungai dan suara gemericik air yang menyerupai musik terus menemani harinya. Maka itu, ia sedikit gugup ketika datang ke kota besar ini. Ketika bintang tak terlihat jelas, ketika hewan tak terlihat senang dan ketika suara air yang dirindukannya tidak pernah ia dengar lagi. Air matanya menitik, tapi ia tidak boleh sedih, segera ia bersiap – siap untuk kuliah. Danisa sedang turun tangga ketika ponsel ditangannya berbunyi.
            Triing,
Danisa, saya udah di depan kosanmu. Danisa tertegun dan seketika panik. Astaga! Kemaren aku janjian ya sama Diaz?
Oke Diaz, tunggu sebentar saya keluar
Danisa membawa sepedanya keluar, sedikit ketar ketir, tapi kegugupannya berkurang karena ternyata Diaz tidak sendiri, ada dua orang lagi temannya. Danisa tersenyum.
“Who, mau jemput koe toh?”Tanya Gian dan Reno berbarengan, logat Jawanya kental,
“Gian,”tangan Gian terulur,
“Danis,” Jawab Danisa,
“Reno,” Ganti tangan Reno terulur
“Danis,” Jawab Danisa,
“Burjo dulu po?”Tanya Gian kepada Diaz,
“Apa itu Burjo?”Danisa bertanya Gian, Reno, dan Diaz melongo tak percaya.
---
“Kamu agak parah Danis, sudah hampir satu tahun kuliah di sini gak pernah ke burjo?”Tanya Diaz sembari memesan empat bubur kacang ijo plus teh manis
Danis memandang semua cowo yang ada di burjo itu was – was. Ya wajar dia gak tahu, wong isinya cowo semua begini, “Diaz, kalau saya kesini sendiri gak bareng kalian, kayaknya saya sudah habis,” Ucap Danis, sembari mengedarkan matanya ke seluruh penjuru ruangan

Gian, dan Reno tertawa melihat kelakuan Danisa, Diaz mengangkat bahu tak acuh, tapi kemudian Danisa ikut tertawa, dan Diaz bersumpah dirinya menghangat melihat tawa itu. Diaz menggelengkan kepala, ini gak benar, Arista menunggunya jauh disana. Dia dan Danisa adalah suatu bentuk pertemanan, tegas Diaz dalam otaknya. Tapi Diaz tidak tahu, bahwa cinta dapat menyelusup kedalam pertemanan semudah menjentikkan tangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar