Kamis, 29 Oktober 2015

Komedi Putar #Part1

“Tingkat satu yang menyenangkan
Tingkat dua yang membuka pertemanan
Tingkat tiga yang serius
Tingkat empat bergerak menuju perpisahan”
Empat tingkat yang terkenal dalam kehidupan perkuliahan, empat tingkat yang dapat merubah kehidupan setiap insan manusia yang mengampu ilmu di dalamnya. Empat tingkat yang membuka semua aspek kehidupan…. Seperti komedi putar… naik dan turun, timbul dan tenggelam, jatuh cinta dan benci, pertemuan dan perpisahan

Aku memasuki kelas yang besar tapi dingin itu. Kursi – kursi kayu berjejer tinggi ke atas. Hari ini adalah kuliah pertamaku, di jurusan yang sebenarnya agak strict dengan diriku ini, sebuah jurusan di fakultas teknik. Aku merasa gugup, berkali – kali merapihkan rambut sebahuku yang kukuncir kuda dan dijepit sana sini. Kuperhatikan lagi kemeja lengan panjang ku yang sepertinya tidak terlalu sesuai ditubuhku. Aku menduduki kursi di baris keempat, tidak ingin terlalu terlihat. Tapi sialnya, kuliah di jurusan teknik, artinya adalah pengeksposan bagi cewek, 10 menit kemudian, hanya ada beberapa orang yang bergender sama dengan diriku, yang nampaknya sudah memiliki gerombolannya sendiri dan memilih untuk bercengkrama dengan teman - temannya. Aku sudah mulai pasrah,.. Tapi saat itu mereka datang. Satu cewek dan satu cowok, keduanya tidak bergandengan tangan, tapi sepertinya dari bahasa tubuh mereka, ada sesuatu yang dekat...
Sang cewek  tampak… luar biasa, entah kenapa melihatnya bisa membuat kita tersenyum, Manis, pintar dan tenang aku menilai.
Pandanganku beralih melihat sang cowok, menilai… Deg, jantungku berdesir ketika aku menatap di manik matanya, cowok yang entah siapa itu. Aku segera menundukkan pandanganku. He is so Charming! Pandangannya begitu teduh tapi sorot matanya menunjukkan kepintaran tak terhingga.
 Daniiss,, stop dia udah punya cewek! Seru otakku.
Namun hal selanjutnya juga mengejutkan ku, ketika sang cewek memilih duduk disampingku. Sedangkan, cowoknya pergi bergabung dengan kawanan cowok yang lain. Cewek itu tersenyum begitu tenang kepadaku sembari menjulurkan tangannya,
“Arista, dan aku bukan mahasiswa sini,” Ucapnya singkat. Aku sedikit terkejut, dan sepertinya dia mafhum akan keterkejutanku, maka ia menambahkan. “Lagi liburan keluarga, gak dapat tiket pulang ke Jakarta, daripada bosen, mending kesini, nemenin dia,” Tangannya menunjuk ke arah cowok yang datang bersamanya tadi. Cowok itu melambaikan tangan ringan.
“O.. oke,” jawabku gugup, Arista mengerutkan keningnya. “Oh, maaf aku gak sopan, kenalkan, Danis,” Ucapku sembari mengulurkan tangan. Arista menerima uluran tanganku dengan tersenyum. “Kalau bukan mahasiswa sini… “

Sebelum aku menyelesaikan ucapanku, Arista sudah menjawab, “Sastra, di Depok.” Saat itu, dosen masuk dan percakapan kami terhenti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar