“Tingkat satu yang
menyenangkan
Tingkat dua yang
membuka pertemanan
Tingkat tiga yang
serius
Tingkat empat bergerak
menuju perpisahan”
Empat tingkat yang
terkenal dalam kehidupan perkuliahan, empat tingkat yang dapat merubah
kehidupan setiap insan manusia yang mengampu ilmu di dalamnya. Empat tingkat
yang membuka semua aspek kehidupan…. Seperti komedi putar… naik dan turun,
timbul dan tenggelam, jatuh cinta dan benci, pertemuan dan perpisahan
Aku
memasuki kelas yang besar tapi dingin itu. Kursi – kursi kayu berjejer tinggi
ke atas. Hari ini adalah kuliah pertamaku, di jurusan yang sebenarnya agak strict dengan diriku ini, sebuah jurusan
di fakultas teknik. Aku merasa gugup, berkali – kali merapihkan rambut sebahuku
yang kukuncir kuda dan dijepit sana sini. Kuperhatikan lagi kemeja lengan
panjang ku yang sepertinya tidak terlalu sesuai ditubuhku. Aku menduduki kursi
di baris keempat, tidak ingin terlalu terlihat. Tapi sialnya, kuliah di jurusan
teknik, artinya adalah pengeksposan bagi cewek, 10 menit kemudian, hanya ada
beberapa orang yang bergender sama dengan diriku, yang nampaknya sudah memiliki
gerombolannya sendiri dan memilih untuk bercengkrama dengan teman - temannya.
Aku sudah mulai pasrah,.. Tapi saat itu mereka datang. Satu cewek dan satu
cowok, keduanya tidak bergandengan tangan, tapi sepertinya dari bahasa tubuh
mereka, ada sesuatu yang dekat...
Sang
cewek tampak… luar biasa, entah kenapa
melihatnya bisa membuat kita tersenyum, Manis,
pintar dan tenang aku menilai.
Pandanganku
beralih melihat sang cowok, menilai… Deg, jantungku berdesir ketika aku menatap
di manik matanya, cowok yang entah siapa itu. Aku segera menundukkan
pandanganku. He is so Charming!
Pandangannya begitu teduh tapi sorot matanya menunjukkan kepintaran tak
terhingga.
Daniiss,,
stop dia udah punya cewek! Seru otakku.
Namun
hal selanjutnya juga mengejutkan ku, ketika sang cewek memilih duduk disampingku.
Sedangkan, cowoknya pergi bergabung dengan kawanan cowok yang lain. Cewek itu
tersenyum begitu tenang kepadaku sembari menjulurkan tangannya,
“Arista,
dan aku bukan mahasiswa sini,” Ucapnya singkat. Aku sedikit terkejut, dan
sepertinya dia mafhum akan keterkejutanku, maka ia menambahkan. “Lagi liburan
keluarga, gak dapat tiket pulang ke Jakarta, daripada bosen, mending kesini,
nemenin dia,” Tangannya menunjuk ke arah cowok yang datang bersamanya tadi.
Cowok itu melambaikan tangan ringan.
“O..
oke,” jawabku gugup, Arista mengerutkan keningnya. “Oh, maaf aku gak sopan,
kenalkan, Danis,” Ucapku sembari mengulurkan tangan. Arista menerima uluran
tanganku dengan tersenyum. “Kalau bukan mahasiswa sini… “
Sebelum
aku menyelesaikan ucapanku, Arista sudah menjawab, “Sastra, di Depok.” Saat
itu, dosen masuk dan percakapan kami terhenti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar