Membangun
Komunikasi Sosial Dalam Pengembangan
Masyarakat
Hillariana[1]
Komunikasi
Sosial
Lubis telah mengatakan bahwa komunikasi, informasi, dan edukasi adalah hal yang mesti ada dalam
pengembangan masyarakat. Lalu, bagaimana pengembangan masyarakat didekati dengan
komunikasi? Komunikasi sebagai mana asalnya dilakukan untuk fungsi informasi dan fungsi interpretatif
(menyamakan makna). Akan tetapi, komunikasi sosial lebih dari itu, komunikasi
sosial adalah komunikasi yang fokus kepada interaksi antar manusia dalam ranah publik
dalam masyarakat atau kelompok budayanya dengan kata lain fokus kepada
interaksi dalam komunitas.
Perbedaan fokus ini membuat komunikasi sosial dengan
bantuan media massa sebagai alat dapat menjembatani masyarakat yang membutuhkan
pengembangan masyarakat dalam konteks meredakan konflik sekaligus
mengedukasi atau mungkin sekadar memberikan informasi.
Selanjutnya, dalam melakukan komunikasi sosial kita harus
memahami tentang elemennya terlebih dahulu. Elemen ini harus ada sehingga bisa
kita mengatakan bahwa komunikasi yang berlangsung adalah komunikasi sosial. Elemen
itu adalah jumlah partisipan yang lebih dari tiga, pembicaraan yang ada
menyangkut aspek publik, pembicaraan yang ada memberikan inforrmasi,
interpretasi, dan hiburan serta digunakannya alat budaya sebagai pemersatu komunikan.
Untuk aspek jumlah partisipan, bisa dilengkapi, jika pembicaranya yang dua
orang pun namun yang berbicara adalah dua orang penguasa yang sedang
membicarakan persoalan dunia maka itu bisa pula dikatakan komunikasi sosial.
Lalu, kita dapat membangun komunikasi sosial melalui
jenis komunikasi human communication.
Komunikasi ini menempatkan komunikasi tatap muka dan komunikasi interpersonal
sebagai inti. Lalu, karena komunikasi sosial merupakan bagian dari pengembangan
masyarakat maka dapat kita hubungkan bahwa human
communication ini juga sesuai dengan pengembangan masyarakat dimana
interaksi dalam komunitas merupakan
kunci utama berjalannya pengembangan masyarakat.
Model
Komunikasi dalam Pengemas
Model objektif atau transmisi adalah model yang tidak
banyak berbias. Untuk melakukan model ini, kita harus mengidentifikasi saluran
yang tepat untuk melancarkan komunikasi. Lalu, model kedua adalah model
subjektif atau berorientasi penerima. Dalam model ini terjadi distorsi pesan
dimana penerima menganggap yang dibutuhkannya hanya pengertian tentang a tidak
tentang ax sehingga yang diambil hanya pengertian a. Model ketiga adalah model jaringan sosial atau negosiasi model ini
adalah model yang mempersatukan
kekuasaan, hubungan sosial, sumberdaya dan kepentingan aspirasi sosial.
Komunikasi
dalam Komunitas
Komunikasi sosial seperti telah dikatakan sebelumnya
membutuhkan media massa sebagai pemelancar komunikasinya. Media massa bisa
menjadi sarana media edukasi, memberikan informasi, dan katalisator
perkembangan budaya. Media massa amat berguna
pada komunikasi dua langkah (two
step model of communication). Karena media massa adalah sumber informasi
bagi opinion leader.
Selain opinion leader, perantau dapat juga menjadi sumber
informasi bagi masyarakat. Perantau membawa informasi baru ke tengah
masyarakat, informasi tentang daerah yang pernah ditinggalinya. Kearifan lokal yang diberdayakan juga bisa
menjadi sumber informasi baru bagi masyarakat. Kearifan lokal yang tadinya
tersembunyi terangkat ke permukaan diakibatkan adanya pemberdayaan ini. Terakhir, dengan menggunakan jaringan
kerjasama antar lembaga berbasis komunitas kita dapat memberikan informasi baru
bagi masyaraakat dengan cara masyarakat yang aktif berdiksusi dengan lembaga
atau lembaga yang memberikan informasi baru bagi masyarakat.
[1]
Mahasiswi Prodi SKPM/ Hillariana Ikhlash Devani / I34120102
Setelah Ujian Akhir Semester, menyadari bahwa komunikasi sosial pada intinya adalah komunikasi yang menggunakan media masa sebagai alat. Akan tetapi, tidak fokus kepada perkembangan media massa dan teknologinya. Komunikasi sosial berfokus pada interaksi sosial di dalam masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar