Rabu, 16 Juli 2014

Menanti

Sedang bersemangat untuk menanti bukber, sedang bersemangat untuk menanti semester 5, sedang bersemangat untuk menanti seseorang menjadi berumur 20 tahun.

Ketika penantian berujung kepada kebahagiaan, tentunya akan menjadi kemenangan sendiri dalam hati. Tetapi, tidak semua penantian berujung kepada kebahagiaan.

Saat seseorang menjadi dewasa, maka saat itu dia akan menjadi tahu apa yang harus dilakukannya ketika menghadapi hal seperti itu,

Tak sabar aku menjadi dewasa sehingga dapat menjadi lebih bijaksana

Ingat, tua itu pasti, dewasa itu pilihan,

Ganbatte!

Selasa, 01 Juli 2014

Memandang Aksi Kriminal di Sekitar Kampus



Miris, rasanya adalah kata yang bisa saya tuliskan mengawali tulisan singkat ini. Sudah beberapa minggu, tepatnya semenjak Ujian Akhir Semester genap TA ajaran 2013/2014 dimulai, banyak broadcast via line maupun bbm mengabarkan beberapa berita yang sama nadanya. Perampokan, pencurian, dan akhir – akhir ini percobaan pemerkosaan. Sungguh khawatir saya membaca broadcast – broadcast itu. Apalagi, perampok dan pencuri sudah semakin nekat melakukan aksinya. Mulai dari menjebol jendela kamar kosan sampai melukai korbannya. 

Saya bukan kriminolog, saya hanya seorang mahasiswa yang merasa miris dengan berita – berita yang terjadi di sekitar kampus saya sendiri. Bayangkan, pencuri seakan – akan dengan mudahnya mampu mengambil barang – barang mahasiswa dengan begitu mudahnya. Laptop, handphone, sepeda motor... Bahkan dalam beberapa kasus, pencurian sudah  terjadi di dalam  kampus. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Pemikiran yang langsung muncul adalah adanya kesenjangan antara masyarakat pendatang yaitu mahasiswa, dosen, dan tenaga pendidikan lainnya dengan masyarakat asli terutama dalam hal ekonomi. Namun, bukankah kedatangan mahasiswa seharusnya membuat kegiatan ekonomi masyarakat juga bergeliat? 

Dalam beberapa broadcast juga tercantum tentang masyarakat sekitar yang tidak peduli akan musibah yang dialami mahasiswa dan diyakini bahwa tidak adanya interaksi sosial antara mahasiswa dan masyarakat sekitar adalah penyebab mengapa kasus – kasus ini sulit untuk diusut tuntas, sulit untuk mendapat titik terang tentang siapa yang sebenarnya melakukan aksi – aksi kriminal tersebut. Akan tetapi benarkah masyarakat tidak peduli? 

Kehidupan masyarakat pedesaan seharusnya adalah kehidupan dimana masyarakat nya saling berinteraksi secara penuh. Desa Dramaga – jika masih bisa disebut desa- menurut pendapat saya pribadi tidak bisa dikatakan sebagai desa lagi. Banyaknya transaksi yang bersifat komersial menurut saya sudah menghilangkan hal – hal yang berkaitan dengan kehidupan pedesaan di Desa Dramaga. Dan jika masyarakat nya – khusus saya ungkapkan adalah masyarakat Babakan Raya, Tengah, Lio dan Lebak -  sudah bergerak menuju masyarakat perkotaan atau pra perkotaan dapat dikatakan masyarakat akan menjadi lebih individualistis. 

Saya yang lahir dan besar di kota, bolak – balik bekasi jakarta untuk sekolah dari sd sampai sma, agak paham dan mengerti jika masyarakat mungkin tidak ingin terlibat lebih jauh dalam permasalahan mahasiswa jika begitu keadaannya. Memang, harus ada penelitian lebih lanjut agar dapat mengetahui persepsi masyarakat terhadap mahasiswa lebih dalam. Tentunya agar isu tidak adanya interaksi sosial antara mahasiswa dan masyarakat tidak memperburuk keadaan sosial saat ini. 

Pada akhirnya, penyebab kejadian pencurian, perampokan, dan percobaan pemerkosaan terhadap mahasiswa di sekitar kampus. Saya rasa adalah perbuatan oknum yang memang mempunyai pikiran yang jahat. Hal yang perlu dilakukan masyarakat pendatang dan masyarakat asli saat ini adalah bahu membahu  untuk memeranginya. Karena bukan tidak mungkin korban dikemudian hari tidak hanya masyarakat pendatang tetapi juga masyarakat asli. Sedangkan, isu tentang interaksi sosial yang kurang baik antara masyarakat dan mahasiswa juga harus dicarikan solusi, jalan keluar paling baik harus dirumuskan karena tidak akan pernah ada asap jika tidak ada api.