Miris, rasanya adalah
kata yang bisa saya tuliskan mengawali tulisan singkat ini. Sudah beberapa
minggu, tepatnya semenjak Ujian Akhir Semester genap TA ajaran 2013/2014
dimulai, banyak broadcast via line maupun bbm mengabarkan beberapa berita yang
sama nadanya. Perampokan, pencurian, dan akhir – akhir ini percobaan
pemerkosaan. Sungguh khawatir saya membaca broadcast – broadcast itu. Apalagi,
perampok dan pencuri sudah semakin nekat melakukan aksinya. Mulai dari menjebol
jendela kamar kosan sampai melukai korbannya.
Saya bukan kriminolog,
saya hanya seorang mahasiswa yang merasa miris dengan berita – berita yang
terjadi di sekitar kampus saya sendiri. Bayangkan, pencuri seakan – akan dengan
mudahnya mampu mengambil barang – barang mahasiswa dengan begitu mudahnya.
Laptop, handphone, sepeda motor... Bahkan dalam beberapa kasus, pencurian
sudah terjadi di dalam kampus. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Pemikiran yang langsung
muncul adalah adanya kesenjangan antara masyarakat pendatang yaitu mahasiswa,
dosen, dan tenaga pendidikan lainnya dengan masyarakat asli terutama dalam hal
ekonomi. Namun, bukankah kedatangan mahasiswa seharusnya membuat kegiatan
ekonomi masyarakat juga bergeliat?
Dalam beberapa
broadcast juga tercantum tentang masyarakat sekitar yang tidak peduli akan
musibah yang dialami mahasiswa dan diyakini bahwa tidak adanya interaksi sosial
antara mahasiswa dan masyarakat sekitar adalah penyebab mengapa kasus – kasus ini
sulit untuk diusut tuntas, sulit untuk mendapat titik terang tentang siapa yang
sebenarnya melakukan aksi – aksi kriminal tersebut. Akan tetapi benarkah
masyarakat tidak peduli?
Kehidupan masyarakat
pedesaan seharusnya adalah kehidupan dimana masyarakat nya saling berinteraksi
secara penuh. Desa Dramaga – jika masih bisa disebut desa- menurut pendapat
saya pribadi tidak bisa dikatakan sebagai desa lagi. Banyaknya transaksi yang
bersifat komersial menurut saya sudah menghilangkan hal – hal yang berkaitan
dengan kehidupan pedesaan di Desa Dramaga. Dan jika masyarakat nya – khusus saya
ungkapkan adalah masyarakat Babakan Raya, Tengah, Lio dan Lebak - sudah bergerak menuju masyarakat perkotaan
atau pra perkotaan dapat dikatakan masyarakat akan menjadi lebih
individualistis.
Saya yang lahir dan
besar di kota, bolak – balik bekasi jakarta untuk sekolah dari sd sampai sma,
agak paham dan mengerti jika masyarakat mungkin tidak ingin terlibat lebih jauh
dalam permasalahan mahasiswa jika begitu keadaannya. Memang, harus ada
penelitian lebih lanjut agar dapat mengetahui persepsi masyarakat terhadap
mahasiswa lebih dalam. Tentunya agar isu tidak adanya interaksi sosial antara
mahasiswa dan masyarakat tidak memperburuk keadaan sosial saat ini.
Pada akhirnya, penyebab
kejadian pencurian, perampokan, dan percobaan pemerkosaan terhadap mahasiswa di
sekitar kampus. Saya rasa adalah perbuatan oknum yang memang mempunyai pikiran
yang jahat. Hal yang perlu dilakukan masyarakat pendatang dan masyarakat asli
saat ini adalah bahu membahu untuk
memeranginya. Karena bukan tidak mungkin korban dikemudian hari tidak hanya
masyarakat pendatang tetapi juga masyarakat asli. Sedangkan, isu tentang
interaksi sosial yang kurang baik antara masyarakat dan mahasiswa juga harus
dicarikan solusi, jalan keluar paling baik harus dirumuskan karena tidak akan
pernah ada asap jika tidak ada api.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar