Dari awal, Soji Shimada berusaha menangkap karakter warga Tokyo yang digambarkan terlalu mengkhawatirkan gaya, kondisi ekonomi atau penilaian orang lain. Pembunuhan di Rumah Miring mengolah fenomena itu sejak halaman pertama sehingga novel ini dibuka dengan penjelasan mengenai tokoh-tokoh dibalik dua bangunan unik lainnya. Pengenalan ini dilakukan untuk memberi ruang pada sebuah latar tempat mewah –Rumah Miring– dimana para tokoh dari kota hadir diikat oleh keinginan untuk terlihat “gaya”.
Rumah Miring sendiri adalah rumah yang berada di ujung Tanjung Soya daerah Hokkaido, diciptakan dengan kejutan rasa yang berbeda bagi para tokoh. Jelas, gaya untuk kalangan atas. Bisa dikatakan puncak obsesi. Bentuknya miring, tak masuk akal. Untuk tokoh lainnya —bukan kalangan atas— tunggu dulu. Bahkan, salah satu detektif muda yang miskin di dalam novel ini sampai mengatakan “...hanya untuk iseng, membangun mansion dengan lantai miring tak keruan…”. Namun, perlu digarisbawahi bahwa gaya, menjadikan Rumah Miring bukan sekadar latar. Ia adalah pernyataan dari dunia orang kaya yang percaya diri menciptakan kemustahilan.
Keteguhan Shimada untuk menjadikan Rumah Miring sebagai latar tempat kisah bisa diacungi jempol. Shimada bahkan menyisipkan gambar skematik Rumah Miring pada halaman 20. Barangkali untuk membantu pembaca memahami deskripsinya. Lebih lanjut, karakter Eiko Hamamoto —anak dari jutawan Hamamoto— juga membantu mempermudah menghafal penempatan penghuni dan tamu rumah ini. Dia menempatkan tamu pada kamar-kamar dengan hati-hati. Penilaiannya meliputi, karakter, status menikah, kepentingan individu, bahkan mungkin rasa hormatnya.
Karakter Banyak, tetapi Tidak Tumpang Tindih
Novel ini memakai trope populer. Ada plesir dan pesta akhir tahun dengan selusin tamu. Lalu, pembunuhan pertama terjadi dalam ruang tertutup. Tiga bahkan empat detektif dipanggil. Penilaian dibentuk. Tapi yang menarik, tidak ditemukan ada motif pembunuhan. Para detektif sampai tidak habis pikir. Pada rumah yang berdiam seorang direktur Hama Diesel, Kozaburo Hamamoto. Juga, direktur dari perusahaan Kikuoka Bearings, Eikichi Kikuoka. Mengapa yang dibunuh adalah yang tidak “gaya”?
Kejadian ini sontak membuat penghuni dan tamu Rumah Miring yang saat itu dikenal dengan Mansion Gunung Es tertunduk lesu. Mereka ingin menyambut tahun baru yang meriah, bukan bersama mayat. Akan tetapi, takdir mengatakan sebaliknya. Rangkaian kejadian pembunuhan terjadi lagi.
Detektif yang Tidak Selalu menjadi Favorit
Walaupun genre ini menempatkan detektif sebagai pusat cerita, bagi saya justru Shun Sasaki —bukan para detektif— yang paling memikat. Sasaki kreatif, cerdas, tetap belajar di tengah kekacauan dan menjadi penyeimbang dunia orang kaya yang tampak glamor tetapi rapuh. Ia adalah karakter yang “hidup saat ini”. Sebaliknya, detektif lokal digambarkan kebingungan dan kewalahan, sebuah sentuhan realistis yang menyegarkan. Permasalahannya, Shimada menggunakan permainan dialog antar detektif lokal untuk memajukan alur, meninggalkan performa “gaya” para tokoh lainnya. Saya berpendapat pola ini perlu kejelasan lebih lanjut. Terutama, jika mengacu pada karya ini, pertukaran dialog detektif lokal berakhir dengan ketidakmampuan menyelesaikan kasus. Untungnya, detektif utama yang datang dari Tokyo, Kiyoshi Mitarai menyelamatkan muka. Dia mengambil panggung di Rumah Miring.
Kemustahilan yang Menjadi Kunci
Soji Shimada menekankan pada kisah dengan kasus mustahil. Pekerjaan detektif dibuat amat rumit dalam cerita ini. Kasus dibuat mustahil di permukaan: 1. Korban dengan latar “gaya” berbeda 2. Ruang terkunci yang menipu. Alhasil, saat tahun baru telah terlewati, Penghuni, tamu, juga para detektif dipaksa “didorong sampai batas”. Tetapi dari celah kemustahilan itu, deduksi Mitarai menemukan jalan keluar. Kasus pun berakhir dan pelaku berhasil diamankan. Penyelesaian triknya maupun alasannya berbanding lurus dengan “gaya” yang menyebabkan kompleksitas sosial dalam dunia Pembunuhan Rumah Miring. Gaya khas orang kaya.
Kesimpulan
Pembunuhan di Rumah Miring adalah novel detektif Jepang yang kuat secara konsep dan menyenangkan bagi pembaca yang menggemari puzzle berbasis arsitektur. Rumahnya unik dan narasinya mengalir cukup mudah diikuti. Ini karya Asian Lit dari Soji Shimada yang cocok untuk pembaca 21+ bukan karena konten vulgar tetapi karena kedewasaan diperlukan untuk menangkap sindiran sosial dalam dialog. Kesulitan kasus ini sendiri menurut saya dikarenakan korban yang memiliki latar belakang berbeda dan dialog antar detektif lokal yang tidak memberikan kesimpulan. Walaupun begitu, pertanyaan pamungkas tetap menggantung hingga bab akhir. Di antara orang kaya yang sangat peduli pada gaya, siapa sesungguhnya yang kehilangan seluruh kendali?


