Selasa, 01 Oktober 2019

Suami Dinas ke Luar Kota, Ikut Gak Ya?

Ilustrasi Canva

Saya dan suami menikah tahun 2018. Sebagai pasangan baru, ada momen di mana saya tidak mau berpisah dari suami. Tetapi, pekerjaan Suami memang mengharuskannya dinas luar, jika saya hitung, sampai setahun saya menikah, paling tidak Suami sudah dinas ke luar kota sebanyak 4 kali. Apakah ke empat-empatnya saya ikut? Tentu tidak. Menurut saya ada beberapa pertimbangan sebelum memutuskan saya ikut dinas luar kota bersama Suami. Berikut saya rangkumkan beberapa pertimbangan saya:

1. Lama Waktu Dinas
    • Jika dinas dalam waktu sehari dua hari, saya berpikir tidak perlu untuk menemani Suami pergi Dinas. Tetapi jika Dinas sudah masuk dalam hitungan minggu, apalagi bulan, saya akan langsung mengatakan bahwa saya bersedia ikut dinas ke luar kota. Oleh karena, adalah kewajiban saya untuk mengurus kebutuhan Suami. Juga, saya pun merasa lebih bahagia jika dapat mengurus kebutuhan suami. Walaupun tentu ada beberapa faktor lain yang akan mempengaruhi keputusan tersebut.
    2. Lokasi Dinas
    • Lokasi dinas penting untuk menjadi pertimbangan. Apakah dinas dilakukan di kota besar ataukah di desa? Lalu bagaimana kondisi keamanan lokasi dinas, dapatkah seorang Suami membawa Istri ke lokasi tersbut. Lokasi dinas, juga terkait dengan penginapan tempat Istri dan Suami akan menginap. Bagi saya, jika Suami mendapatkan penginapan, saya juga harus memperhatikan kondisi lingkungan hotelnya, apakah dekat dengan pusat kuliner dan pusat perbelanjaan atau apakah diperkenankan memasak sendiri? Karena pada dasarnya, dinas ke luar kota pada umumnya memiliki tujuan khusus yang membuat pekerjaan dua minggu misalnya, terkonsentrasi pada beberapa hari kerja. Sehingga Suami mungkin akan pulang lebih malam daripada biasanya. Dari segi fisik pun, tenaga suami akan terkuras pada pekerjaan. Sehingga, dengan mengenali lokasi dinas, kita sebagai Istri, paling tidak, dapat membuat suami lebih nyaman saat bekerja karena dapat menyediakan kebutuhan makan sendiri.
    3. Tingkat Kesulitan Kerja
    • Ini faktor lain yang ikut menentukan, ikut atau tidaknya saya ke luar kota. Variabel ini sulit untuk didefinisikan, akan tetapi biasanya saya bertanya beberapa hal kepada Suami sehingga kami berdua bisa memutuskan apakah pekerjaan Suami akan sulit atau standar. Beberapa hal yang saya tanyakan semisal, lama jam bekerja, mobilitas suami saat dinas luar kota, juga hierarki supervisi. Ada kalanya Suami dinas bekerja sesuai jam kerja dari pukul 8 sampai 5, tetapi jika ada meeting dan kontrol malam, saya memilih untuk tidak ikut. Hal tersebut juga terkait dengan hierarki supervisi, apakah suami memegang tanggung jawab penuh atau orang lain yang memegang. Jika suami yang memegang, saya memutuskan untuk tidak ikut, karena berarti Suami akan stand by 24 jam di area kantor. Terakhir, jika mobilitas Suami di tempat dinas jauh jaraknya, misal sekali tempuh dua jam, bolak balik menjadi empat jam saya memilih tidak ikut. Tetapi tentu saja variabel-variabel ini berbeda-beda bagi setiap pasangan Suami Istri.
    Selain ketiga faktor tersebut, faktor yang meningkatkan keinginan saya untuk berdinas luar adalah rasa sayang kepada Pak Suami. Apalagi, kami masih berdua, sedang asik-asiknya membangun mahligai rumah tangga rasa pacaran. Walaupun begitu, saya sering diberikan petuah  oleh tetua yang lebih berpengalaman.
    "Jadi Istri, jika suami bekerja ya ikhlaskan, toh rejekinya buat keluarga juga,"  
    "Bekerja ya bekerja, liburan ya liburan, keduanya berbeda, kalau liburan ya Istri diajak, kalau kerja ya Istri di rumah,"
    Apapun petuah yang saya terima, setelah menjadi Istri, saya terima. Karena pasti yang memberi petuah diniatkan dengan niat baik, tetapi terkait teknik pelaksanaannya selalu saya diskusikan dengan Suami. Jadi keputusan yang keluar, adalah keputusan kami berdua, dan kami bertanggung jawab atas keputusan yang telah dibuat.