Senin, 27 Juli 2015

Menyambut Pemimpin Indonesia Masa Depan



Oleh : Hillariana Ikhlash

            Indonesia adalah sebuah negara yang memiliki julukan jamrud khatulistiwa karena kekayaan alamnya yang begitu melimpah ruah dan tidak ada habisnya. Akan tetapi julukan itu nampaknya berkebalikan dengan realita di lapangan, jutaan rakyat Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan, menyebabkan timbulnya berbagai konflik sosial di dalam masyarakat. Permasalahan yang begitu kompleks menimbulkan cabang – cabang baru dan membuat permasalahan baru, akar permasalahan kian dalam dan tidak bisa terdeteksi, apalagi diselesaikan.
            Reformasi sudah berlangsung lebih dari 14 tahun silam, demokrasi, transparansi, dikoarkan di berbagai wilayah, menyulut api keinginan untuk segera maju, undang – undang dibentuk, otonomi daerah direalisasikan, bahkan pemerintah pusat turun tahta, akan tetapi sudahkah semangat itu membawa hal baru bagi Indonesia?
            Jawabannya adalah tidak.
            Lalu sampai kapan kita akan seperti ini? Tidak ada yang mengetahui pasti. Akan tetapi ada satu jawaban yang bisa kita selesaikan bersama saat ini juga yaitu persoalan mencari pemimpin. Dalam hemat saya, Indonesia sudah seperti negara yang tak punya pemimpin. Mengapa demikian? Karena tidak ada orang yang dapat mengayomi Indonesia. Menurut saya, pemimpin tidak harus otoriter seperti zaman sebelum reformasi. Akan tetapi, jika pemimpin tidak mampu untuk mengayomi, melindungi, mengakomodir kebutuhan rakyatnya, apa pantas dia dikatakan sebagai pemimpin? Tidak ada waktu untuk menunggu lagi, perubahan Indonesia harus segera dilakukan. Dan saat ini adalah saat yang tepat untuk mencari pemimpin yang dapat membawa Indonesia menuju kea rah yang lebih baik.
Dalam ruang lingkup wilayah sebesar Indonesia, tidak mudah memang mencari pemimpin yang mengakomodir seluruh kebutuhan. Apalagi mengingat akar permasalahan Indonesia yang begitu dalam dan tak terdeteksi. Maka, Indonesia butuh pemimpin yang dapat melihat dan menyatukan semangat reformasi yang telah terkubur selama belasan tahun. Butuh pemimpin yang dapat mengarahkan masyarakat bukan diarahkan oleh pihak asing Pemimpin yang akan kita bangga dengan memilikinya, pemimpin yang darah kita bergetar saat menyebut namanya. Pemimpin yang tidak hanya dikenal namanya, tetapi juga jasa – jasanya bagi negara tercinta ini. Pemimpin yang menderikan dorongan untuk peningkatan kinerja dan produktivitas. Tujuannya hanya satu agar kesatuan Indonesia dapat tercapai dan akar permasalahan dapat terlihat.
Menurut saya pemikiran ini menarik, karena penyatuan berbagai perspektif manusia tidaklah semudah membalikkan tangan. Dalam psikologi sosial telah dibahas, bahwa pikiran manusia tidaklah semudah yang dibayangkan, berbagai macam hal mempengaruhi pikiran dan setiap aspek pengaruh dari pengaruh pikiran itu pun berbeda jua. Maka, sebuah gagasan revolusi mental dari Presiden terpilih kita, Bapak Joko Widodo, menjadi sulit sekali untuk dibayangkan akan dilakukan. Akan tetapi saya tetap mengapresiasi gagasan beliau, karena gagasan beliau menunjukkan beliau paham dan mengerti akan Indonesia.
Mungkin beliau adalah pemimpin yang bisa merubah keadaan Indonesia. Namun saya sendiri percaya bahwa kita harus masih mencari pemimpin yang dimaksud. Mengapa? Karena saya percaya setiap orang terlahir dengan jiwa pemimpin, tapi pengasahan bakat yang dapat membuatnya menjadi pemimpin berkualitas. Terkait dengan hal tersebut saya menjadi paham bahwa selama pendidikan Indonesia belum berjalan semestinya – baik formal dan non formal – saya tidak akan pernah bermimpi untuk mencari pemimpin pada diri anak – anak Indonesia. Pengasahan bakat adalah mutlak dan tanpa pengetahuan dan moral yang baik – saya tidak mengatakan jenjang pendidikan – hal ini akan menjadi sulit terwujud. Pada akhirnya saya menarik kesimpulan bahwa perbaikan kualitas pendidikan Indonesia – lagi – lagi saya katakan formal dan non formal – adalah suatu bentuk kemutlakan tersendiri agar kita kelak dapat  melebarkan tangan dan menyambut pemimpin masa depan Indonesia.

Selasa, 14 Juli 2015

Berpikir Kembali

Hai kawan,
 Adalah menjadi orang yang bahagia, ketika kamu bangun dari tidurmu, dinginnya udara masih menusuk kulit dan matahari belum nampak cahayanya. Namun sudah ada cahaya dalam pikiranmu.

Hai kawan,
Adalah menjadi orang yang bersedih, ketika nikmat hidup tidak dilandasi dengan impian dan arah tujuan.Juga,ketika setiap tarikan napas tidak diiringi dengan senyuman,

Hai kawan,
Masih kah kau membandingkan hidup siapa yang lebih beruntung ketika dunia yang kau pijak sudah berpikir seribu kali lebih tinggi daripada itu,

Maka renungkanlah kawan, apa yang ingin kau lakukan, hari ini, esok, tahun depan sampai akhirat, tempat persamayaman abadimu kelak