Oleh
: Hillariana Ikhlash
Indonesia adalah sebuah negara yang memiliki julukan
jamrud khatulistiwa karena kekayaan alamnya yang begitu melimpah ruah dan tidak
ada habisnya. Akan tetapi julukan itu nampaknya berkebalikan dengan realita di
lapangan, jutaan rakyat Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan, menyebabkan
timbulnya berbagai konflik sosial di dalam masyarakat. Permasalahan yang begitu
kompleks menimbulkan cabang – cabang baru dan membuat permasalahan baru, akar
permasalahan kian dalam dan tidak bisa terdeteksi, apalagi diselesaikan.
Reformasi sudah berlangsung lebih dari 14 tahun silam,
demokrasi, transparansi, dikoarkan di berbagai wilayah, menyulut api keinginan
untuk segera maju, undang – undang dibentuk, otonomi daerah direalisasikan,
bahkan pemerintah pusat turun tahta, akan tetapi sudahkah semangat itu membawa
hal baru bagi Indonesia?
Jawabannya adalah tidak.
Lalu sampai kapan kita akan seperti ini? Tidak ada yang
mengetahui pasti. Akan tetapi ada satu jawaban yang bisa kita selesaikan
bersama saat ini juga yaitu persoalan mencari pemimpin. Dalam hemat saya,
Indonesia sudah seperti negara yang tak punya pemimpin. Mengapa demikian?
Karena tidak ada orang yang dapat mengayomi Indonesia. Menurut saya, pemimpin
tidak harus otoriter seperti zaman sebelum reformasi. Akan tetapi, jika
pemimpin tidak mampu untuk mengayomi, melindungi, mengakomodir kebutuhan
rakyatnya, apa pantas dia dikatakan sebagai pemimpin? Tidak ada waktu untuk
menunggu lagi, perubahan Indonesia harus segera dilakukan. Dan saat ini adalah
saat yang tepat untuk mencari pemimpin yang dapat membawa Indonesia menuju kea
rah yang lebih baik.
Dalam
ruang lingkup wilayah sebesar Indonesia, tidak mudah memang mencari pemimpin
yang mengakomodir seluruh kebutuhan. Apalagi mengingat akar permasalahan
Indonesia yang begitu dalam dan tak terdeteksi. Maka, Indonesia butuh pemimpin
yang dapat melihat dan menyatukan semangat reformasi yang telah terkubur selama
belasan tahun. Butuh pemimpin yang dapat mengarahkan masyarakat bukan diarahkan
oleh pihak asing Pemimpin yang akan kita bangga dengan memilikinya, pemimpin
yang darah kita bergetar saat menyebut namanya. Pemimpin yang tidak hanya
dikenal namanya, tetapi juga jasa – jasanya bagi negara tercinta ini. Pemimpin
yang menderikan dorongan untuk peningkatan kinerja dan produktivitas. Tujuannya
hanya satu agar kesatuan Indonesia dapat tercapai dan akar permasalahan dapat
terlihat.
Menurut
saya pemikiran ini menarik, karena penyatuan berbagai perspektif manusia tidaklah
semudah membalikkan tangan. Dalam psikologi sosial telah dibahas, bahwa pikiran
manusia tidaklah semudah yang dibayangkan, berbagai macam hal mempengaruhi
pikiran dan setiap aspek pengaruh dari pengaruh pikiran itu pun berbeda jua.
Maka, sebuah gagasan revolusi mental dari Presiden terpilih kita, Bapak Joko
Widodo, menjadi sulit sekali untuk dibayangkan akan dilakukan. Akan tetapi saya
tetap mengapresiasi gagasan beliau, karena gagasan beliau menunjukkan beliau
paham dan mengerti akan Indonesia.
Mungkin
beliau adalah pemimpin yang bisa merubah keadaan Indonesia. Namun saya sendiri
percaya bahwa kita harus masih mencari pemimpin yang dimaksud. Mengapa? Karena
saya percaya setiap orang terlahir dengan jiwa pemimpin, tapi pengasahan bakat
yang dapat membuatnya menjadi pemimpin berkualitas. Terkait dengan hal tersebut
saya menjadi paham bahwa selama pendidikan Indonesia belum berjalan semestinya
– baik formal dan non formal – saya tidak akan pernah bermimpi untuk mencari
pemimpin pada diri anak – anak Indonesia. Pengasahan bakat adalah mutlak dan
tanpa pengetahuan dan moral yang baik – saya tidak mengatakan jenjang
pendidikan – hal ini akan menjadi sulit terwujud. Pada akhirnya saya menarik
kesimpulan bahwa perbaikan kualitas pendidikan Indonesia – lagi – lagi saya katakan
formal dan non formal – adalah suatu bentuk kemutlakan tersendiri agar kita
kelak dapat melebarkan tangan dan
menyambut pemimpin masa depan Indonesia.